BOMINDONESIA.COM, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah setelah ditutup di level Rp17.098 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (10/4/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal dan domestik yang belum mereda, meski terdapat jeda konflik geopolitik di Timur Tengah.
Data pasar menunjukkan rupiah melemah tipis 0,08% pada penutupan perdagangan. Namun, secara intraday, mata uang Garuda sempat menembus level psikologis Rp17.100 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang masa. Kondisi ini menandai tingginya volatilitas pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Secara regional, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sejak awal 2026. Pelemahan mencapai 2,48%, hanya sedikit lebih baik dibandingkan rupee India dan won Korea Selatan yang masing-masing melemah sekitar 3%. Dalam konteks konflik global, posisi rupiah juga masih tertekan dibandingkan sejumlah mata uang kawasan lainnya.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti konflik geopolitik, tetapi juga dipengaruhi sentimen domestik. Pelaku pasar menilai kebijakan fiskal pemerintah yang masih ekspansif berkontribusi terhadap meningkatnya risiko ekonomi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang bertahan di kisaran 90 dolar AS per barel turut memperbesar beban subsidi energi.
Kondisi ini semakin kompleks setelah pemerintah memilih menahan harga bahan bakar guna menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah populis oleh sebagian pelaku pasar karena berpotensi memperlebar defisit anggaran. Di sisi lain, kenaikan harga energi dinilai berisiko menekan konsumsi rumah tangga yang saat ini masih dalam fase pemulihan.
Data fiskal menunjukkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I-2026 mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir pada periode yang sama. Belanja pemerintah yang meningkat, termasuk program prioritas nasional, menjadi salah satu faktor utama pelebaran defisit.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari penurunan cadangan devisa secara beruntun dalam tiga bulan terakhir. Cadangan devisa yang pada Desember 2025 berada di level 156,47 miliar dolar AS turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026. Penurunan ini menunjukkan adanya intervensi pasar serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Gejolak nilai tukar juga diperparah oleh meningkatnya permintaan valas dari korporasi, terutama untuk pembayaran dividen hingga pertengahan tahun. Di saat yang sama, aliran dana asing di pasar saham dan obligasi mengalami penurunan, sehingga mempersempit likuiditas valas di pasar domestik.
Ekonom dari Citigroup, Helmi Arman, menyebut tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung secara bersamaan. Ia menilai konflik di Timur Tengah turut memperlemah perdagangan global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.
Dalam kondisi tersebut, otoritas moneter diperkirakan akan merespons dengan kebijakan yang lebih ketat. Bank Indonesia diproyeksikan berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas rupiah dan menahan arus keluar modal asing.
Dengan berbagai tekanan yang masih berlangsung, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan. Stabilitas nilai tukar kini sangat bergantung pada respons kebijakan pemerintah dan bank sentral, serta perkembangan situasi global yang masih penuh ketidakpastian.














