BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN- – Pengusaha muda Kalimantan Selatan, Tubagus Surya Wikadi ST, menilai penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kebijakan.
Menurutnya, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah yang berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Tubagus mengatakan, berbagai program pembinaan yang selama ini dijalankan perlu terus ditingkatkan baik dari sisi kualitas maupun jangkauannya agar benar-benar menyentuh kebutuhan para pelaku usaha di lapangan.
“Perhatian dan dukungan terhadap pelaku UMKM di Kalimantan Selatan harus terus diperkuat. Pembinaan yang diberikan jangan hanya bersifat seremonial, tetapi harus mampu menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi para pelaku usaha,” ujarnya,
usai Sidang Senat Terbuka Yudisium Sarjana dan Angkat Sumpah Profesi Universitas Cahaya Bangsa (UCB) di Swiss-Belhotel Banjarmasin
Selasa (2/6/2026).
Menurut pria yang juga dikenal sebagai salah satu pentolan ICMI Muda tersebut, pelaku usaha lokal harus diberikan kesempatan yang lebih luas untuk berkembang dan menjadi pelaku utama dalam mengelola potensi ekonomi daerah.
Ia menilai Kalimantan Selatan memiliki sumber daya alam, potensi perdagangan, hingga kekayaan budaya yang sangat besar.
Namun, potensi tersebut harus dapat dinikmati dan dikelola oleh masyarakat lokal agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan daerah.
“Jangan sampai potensi besar yang dimiliki daerah justru lebih banyak dinikmati pihak luar. Pengusaha lokal harus diberikan ruang dan kesempatan yang nyata untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” tegas dosen terbang UCB ini.
Selain itu, Tubagus juga menyoroti tantangan yang kini dihadapi banyak pelaku usaha akibat percepatan digitalisasi layanan dan administrasi bisnis.
Menurutnya, transformasi digital memang menjadi kebutuhan, namun implementasinya harus dibarengi dengan pendampingan yang memadai.
Ia mengungkapkan masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kesulitan memahami berbagai sistem digital yang diterapkan, terutama pelaku usaha kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia maupun akses teknologi.
“Digitalisasi tentu merupakan langkah maju. Namun di sisi lain, banyak pelaku usaha yang masih kesulitan mengikuti perubahan sistem yang begitu cepat. Belum selesai memahami satu mekanisme, sudah muncul aturan atau aplikasi baru lagi,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Tubagus, membuat sebagian pelaku usaha merasa terbebani karena harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi yang terus berkembang dan berbasis teknologi.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memperbanyak program pendampingan, pelatihan, serta edukasi digital bagi UMKM agar proses transformasi berjalan lebih mudah dan tidak menjadi hambatan bagi perkembangan usaha.
“Pembinaan harus diperluas hingga ke daerah-daerah. Jangan sampai digitalisasi yang seharusnya mempermudah justru menjadi kendala bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang,” pungkasnya.
Penulis/Editor : Mercurius












