Ombudsman RI: Potensi Nilai Kerugian Tata Kelola Industri Kelapa Sawit Capai Rp279,1 Triliun per Tahun

Ombudsman RI: Potensi Nilai Kerugian Tata Kelola Industri Kelapa Sawit Capai Rp279,1 Triliun per Tahun

- Redaksi

Jumat, 22 November 2024 - 21:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kajian Sistemik tentang Pencegahan Maladministrasi pada Layanan Tata Kelola Industri Sawit  (foto:istimewa/bomindonesia)

Kajian Sistemik tentang Pencegahan Maladministrasi pada Layanan Tata Kelola Industri Sawit (foto:istimewa/bomindonesia)

BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Ombudsman RI melalui Keasistenan Utama III telah melakukan kajian sistemik tentang pencegahan maladministrasi pada layanan tata kelola industri sawit dari bulan Mei hingga Oktober 2024.

Kajian sistemik ini bertujuan untuk memberikan potret menyeluruh tentang persoalan-persoalan terkait tata kelola perindustrian kelapa sawit di Indonesia yang berpedoman pada Pasal 7 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia, salah satu tugas Ombudsman adalah melakukan upaya pencegahan maladministrasi dalam pelayanan publik.

Bertempat di Gedung Ombudsman RI, Jakarta, Yeka Hendra Fatika Anggota Ombudsman RI menyampaikan kajian melibatkan 51 pihak yang memiliki kepedulian dalam tata kelola industri kelapa sawit.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Industri kelapa sawit memiliki kontribusi besar dalam perekonomian Indonesia bahkan dapat menyerap hingga 17 juta pekerja. Nilai kapasitas industri sawit menurut Badan Kebijakan Fiskal pada tahun 2023 diperkirakan mencapai Rp729 triliun per tahun, kontribusi APBN mencapai Rp.88 triliun bahkan jumlah buyer mencapai 1700 yang tersebar di 131 negara.

”Di balik kontribusi besar perindustrian kelapa sawit di Indonesia tidak terlepas dari tantangan besar yang dihadapi khususnya tata kelola, keberlanjutan dan keadilan sosial. Isu yang menjadi perhatian Ombudsman adalah potensi maladministrasi dalam pengelolaan industri kelapa sawit dari aspek perizinan, lahan, niaga dan kelembagaan,” ucap Yeka.

Baca Juga :  Kemplang Pajak Rp588 Juta, Dirut PT BSB di Banjarmasin Disidang

Dalam konferensi pers, Yeka menyebut, beberapa temuan tata kelola industri sawit di Indonesia mulai dari ketidakjelasan atau tumpang tindih regulasi, banyaknya peraturan yang ada justru membuat pelaku usaha kebingungan tentang prosedur yang harus diikuti sehingga menciptakan ruang terjadinya praktik maladministrasi, ketidakjelasan perizinan yang dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang ada, pengawasan lemah terhadap industri kelapa sawit di tingkat pusat maupun daerah, kurangnya koordinasi antar lembaga. ‘Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya kelemahan struktural dan prosedural tata kelola industri kelapa sawit yang perlu diatasi,’ tambahnya.

Menurutnya, temuan yang didapatkan kajian sistemik yang telah dilakukan, temuan aspek lahan yang menunjukkan terdapat 3.222.350 hektar lahan mengalami tumpang tindih dan dari banyaknya temuan lahan yang tumpang tindih dari 3.325 Subjek Hukum (SH)  hanya 199 yang selesai dan 3.036 SH yang belum selesai sehingga hal ini menunjukkan masih kurangnya kepastian penyelesaian inventarisasi SK DATIN terhadap lahan perkebunan sawit.

Baca Juga :  Pelaku UMKM di Kalsel Berpotensi Tembus Pasar Internasional

‘Kerugian dari lahan perkebunan yang mengalami tumpang tindih mencapai Rp74,1 triliun. Banyak lagi potensi kerugian dari aspek yang dikaji dalam kajian tematik ini. Total potensi nilai kerugian dalam tata kelola industri kelapa sawit adalah Rp279,1 triliun per tahun,” tandas Yeka’.

Besarnya potensi kerugian tata kelola industri kelapa sawit di Indonesia menunjukkan urgensi pembuatan tata kelola yang lebih efektif dan terintegrasi. ‘Saran perbaikan dijelaskan antara lain segera perbaikan sistem perizinan pendirian pabrik dan menata administrasi, serta membuat kebijakan terintegrasi tata niaga hasil produksi perkebunan sawit baik di pasar nasional maupun internasional,’ tuturnya.

Lalu, sambungnya, disarankan membentuk Badan Nasional di bawah Presiden RI untuk menata kelola perindustrian sawit. ‘’Dengan dibentuk kelembagaan badan sawit mampu menyelesaikan permasalahan izin dan kebijakan serta dianggap mampu menyelesaikan masalah tata niaga terkait tata kelola sawit dari hulu ke hilir,” imbuh Yeka.

bomindonesia

Editor : Afdiannoor

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

FKPWK Dukung Wacana Penambahan Layer Tarif Cukai Rokok, Dinilai Dorong Industri Ilegal Masuk Jalur Resmi
Dukung UMKM Melalui Kerja Sama KUR, Jamkrida Kalsel dan Bank Kalsel
Maraknya Rokok Polos Dinilai Ancam Industri Resmi dan Pendapatan Negara
Nilai Ekonomi Digital Harus Berputar di Dalam Negeri
Vincent Gonadi Ahlinya Konsultan Bisnis yang Ekspert dan Profesional
Run dan Fun Walk Ramaikan HUT ke-20 Tahun Senwell Family di Banjar
Ditopang Modal Usaha KUR BRI, Pedagang Kecil di Banjarmasin Berhasil Tingkatkan Taraf Ekonomi Keluarga
BTN Luncurkan Layanan Digital yang Permudah Mendapatkan KPR

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:38 WITA

FKPWK Dukung Wacana Penambahan Layer Tarif Cukai Rokok, Dinilai Dorong Industri Ilegal Masuk Jalur Resmi

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:00 WITA

Dukung UMKM Melalui Kerja Sama KUR, Jamkrida Kalsel dan Bank Kalsel

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:22 WITA

Maraknya Rokok Polos Dinilai Ancam Industri Resmi dan Pendapatan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:28 WITA

Nilai Ekonomi Digital Harus Berputar di Dalam Negeri

Senin, 1 Juni 2026 - 00:46 WITA

Vincent Gonadi Ahlinya Konsultan Bisnis yang Ekspert dan Profesional

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights