BOMIndonesia.com – Pada era Hindia Belanda, sistem pendidikan dibagi berdasarkan kelas sosial dan ras, yang sangat membedakan akses dan kualitas pendidikan yang diperoleh oleh anak-anak dari berbagai kelompok masyarakat. Berikut adalah beberapa jenis sekolah pada masa itu serta padanannya dengan sistem pendidikan saat ini:
1. Sekolah Rakyat (Volkschool)
Sekolah dasar ini diperuntukkan bagi anak-anak pribumi dari kalangan bawah dengan masa pendidikan selama 3 tahun. Pendidikan yang diberikan bersifat sangat dasar, meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Setara dengan: SD kelas 1-3.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
2. Sekolah Sambungan (Vervolgschool)
Setelah lulus dari Volkschool, anak-anak bisa melanjutkan ke Vervolgschool selama 2 tahun, meskipun hanya sedikit yang mampu melanjutkan pendidikan ini karena keterbatasan biaya. Setara dengan: SD kelas 4-6.
3. Sekolah Ongko Loro (Tweede Klasse School)
Sekolah ini untuk anak-anak pribumi dari keluarga dengan status sosial lebih tinggi. Pendidikan berlangsung selama 5 tahun dengan kurikulum yang lebih lengkap. Setara dengan: SD/MI lengkap.
4. Sekolah Ongko Siji (Eerste Klasse School)
Dikhususkan untuk anak-anak bangsawan atau pejabat pribumi. Kurikulum di sekolah ini lebih modern dibandingkan sekolah-sekolah dasar lainnya. Setara dengan: Sekolah dasar elite di kota besar.
5. Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
HIS adalah sekolah untuk anak-anak pribumi kelas atas yang ingin mendapatkan pendidikan setara dengan sekolah Belanda. HIS memiliki kurikulum yang lebih komprehensif dengan masa pendidikan 7 tahun. Setara dengan: SD lengkap.
6. Europese Lagere School (ELS)
ELS ditujukan untuk anak-anak Eropa dan pribumi yang mampu membayar biaya tinggi. Sekolah ini memberikan pendidikan berkualitas tinggi dengan kurikulum yang sangat baik. Setara dengan: SD internasional.
7. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
MULO adalah sekolah menengah pertama untuk anak-anak yang lulus dari HIS atau ELS, dengan pendidikan selama 4 tahun. Setara dengan: SMP.
8. Algemene Middelbare School (AMS)
AMS adalah sekolah menengah atas yang elit dan selektif, umumnya menjadi pilihan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Setara dengan: SMA.
9. Hoogere Burger School (HBS)
HBS adalah sekolah menengah atas dengan pendidikan selama 5 tahun. Kurikulum di HBS sangat mirip dengan standar pendidikan di Eropa dan menjadi jalur utama menuju universitas. Setara dengan: SMA unggulan.
10. Sekolah Kweekschool
Kweekschool mempersiapkan lulusannya menjadi guru dengan jenjang pendidikan yang bervariasi, mulai dari dasar hingga lanjut. Setara dengan: Sekolah pendidikan guru atau fakultas pendidikan di universitas.
PENDIDIKAN TINGGI KEDOKTERAN & TEKNIK
Selain pendidikan dasar dan menengah, ada juga institusi pendidikan tinggi pada era Hindia Belanda yang melahirkan profesional dalam bidang kedokteran dan teknik:
1. STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen)
STOVIA didirikan pada tahun 1902 di Batavia (Jakarta) untuk melatih dokter pribumi. Pendidikan berlangsung selama 9 tahun. Lulusannya sering kali menjadi tokoh pergerakan nasional. Setara dengan: Fakultas Kedokteran (Universitas) saat ini.
2. NIAS (Nederlandsch-Indische Artsen School). Didirikan di Surabaya sebagai pengganti STOVIA, NIAS menyediakan pendidikan kedokteran dengan kurikulum yang lebih modern selama 7 tahun. Setara dengan: Fakultas Kedokteran (Universitas) saat ini.
3. THS (Technische Hoogeschool) Bandung
Didirikan pada tahun 1920, THS Bandung adalah sekolah tinggi teknik yang menjadi cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB). THS melatih insinyur dalam bidang sipil, elektro, dan mesin. Setara dengan: Fakultas Teknik di universitas saat ini.
4. Rechts Hogeschool (RHS) Batavia
Sekolah tinggi hukum ini didirikan pada tahun 1924 di Batavia dan menghasilkan lulusan yang menjadi ahli hukum, pengacara, dan hakim terkemuka. Setara dengan: Fakultas Hukum (Universitas) saat ini.
Pada masa Hindia Belanda, pendidikan bersifat sangat diskriminatif dan tersegmentasi. Akses pendidikan yang berkualitas lebih tinggi umumnya hanya bisa dinikmati oleh kelompok elite, baik dari kalangan Eropa maupun pribumi yang mampu. Namun, dari sistem pendidikan inilah muncul banyak tokoh pergerakan nasional yang kemudian berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Editor : Mercurius
Sumber Berita: Berbagai Sumber












