Senja dan Dust In The Wind di Pasar Loak Kebayoran Lama

Senja dan Dust In The Wind di Pasar Loak Kebayoran Lama

- Redaksi

Kamis, 9 April 2026 - 21:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wawan, pedagang di Pasar Loak Kebayoran Lama yang juga jago bermain biola (Foto Mercy)

Wawan, pedagang di Pasar Loak Kebayoran Lama yang juga jago bermain biola (Foto Mercy)

BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN Sore itu kawasan Pasar Loak Kebayoran Lama di bawah jembatan tampak seperti biasa, Rabu (9/4/2026)

Deretan lapak sederhana berjajar, sebagian menjajakan onderdil bekas, kabel charger, hingga ponsel lama. Di antara riuh tawar-menawar, sayup-sayup terdengar alunan “Dust in the Wind” dari Kansas yang dimainkan ulang secara akustik, sesekali diselipi nuansa rock balada ala Scorpions.

Nada-nada lembut itu mengalir pelan, seolah menjadi latar berbeda di tengah hiruk-pikuk pasar barang bekas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak banyak yang menyangka, alunan biola indah itu berasal dari seorang pedagang lapak kecil bernama Wawan (53).

Lapaknya sederhana. Hanya beberapa kabel charger ponsel yang digantung rapi, beberapa adaptor, dan kotak kecil berisi konektor berbagai jenis.

Sekilas, dagangannya tampak biasa saja, bahkan mungkin terkesan sepele dibanding lapak lain yang menjual ponsel bekas atau peralatan elektronik yang lebih menarik.

Namun bagi sebagian pelanggan lama, lapak Wawan bukan sekadar tempat membeli kabel.

Di sela waktu berdagang, Wawan sering mengambil biola yang disimpannya di balik meja kayu kecil.

Ketika pembeli sepi, ia memainkan beberapa lagu klasik rock atau balada lama.

Baca Juga :  Peluncuran Album “Sketsa Jalanan” Anto Baret Sukses, Diwarnai Puisi dari Deddy Mizwar hingga Cornelia Agatha

Bagi pengunjung yang kebetulan lewat, alunan itu menjadi kejutan kecil di sudut pasar loak.“Cuma buat isi waktu saja, biar nggak jenuh kalau ada biola nya ,” ujar pria yang memiliki satu istri ini sambil tersenyum.

Meski terlihat sederhana, Wawan sebenarnya dikenal sebagai perantara jual beli barang di kalangan pelanggan tertentu. Jika seseorang mencari ponsel bekas yang masih layak, ampli kecil, gitar listrik, bahkan alat musik tertentu, Wawan sering menjadi penghubung.

“Orang biasanya tanya ke saya dulu. Kalau saya nggak punya, saya carikan,” kata ayah dari satu putra yang sudah bekerja ini

Jaringan kecil itu terbentuk selama puluhan tahun ia berdagang.

Wawan yang menetap di kawasan Seskoal Kebayoran Lama ini mengenal banyak pedagang lain, kolektor barang bekas, hingga teknisi elektronik yang sering berburu komponen langka.

Tak jarang, barang yang dicarikan Wawan justru berakhir di tangan orang-orang yang serius di bidang musik. Beberapa di antaranya bahkan pemain biola profesional yang datang hanya untuk melihat-lihat alat musik atau aksesori tertentu.

Baca Juga :  JBJ Soul Kitchen: Restoran Seikhlasnya, Rumah Kemanusiaan Jon Bon Jovi

“Ada juga pemain profesional yang pernah beli di sini. Mereka biasanya cari yang unik atau bekas tapi masih bagus,” katanya.

Bagi Wawan, pasar loak bukan sekadar tempat mencari nafkah. Tempat itu juga menjadi ruang kecil untuk menyalurkan kecintaannya pada musik.

Ia mengaku mulai belajar biola sejak muda secara otodidak.

Awalnya hanya meniru dari kaset lagu yang sering diputar di radio atau warung kopi.

“Belajarnya otodidak. Dengar lagu, coba-coba sendiri,” ujarnya.

Kini, meski usianya sudah melewati setengah abad, kebiasaan itu tak pernah hilang.

Saat matahari mulai condong dan aktivitas pasar sedikit mereda, Wawan kadang kembali memainkan biolanya.

Di tengah deretan kabel charger dan ponsel bekas, nada-nada itu kembali mengalun.

Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat orang yang lewat menoleh sejenak.

Bagi sebagian orang, Wawan mungkin hanya pedagang kecil di sudut pasar loak.

Namun bagi mereka yang pernah berhenti sejenak mendengar biolanya, lapak sederhana itu terasa seperti panggung kecil—tempat musik dan kehidupan sehari-hari bertemu di tengah hiruk-pikuk kota.

Penulis/Editor : Mercurius

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yuk Tonton di Bioskop Kesayangan, Ini Film Terbaru
Serock Band Batu Licin Curi Perhatian di Anniversary KPMRM ke-15
Legenda Rock Banua Bersatu di BlackStone, Guncang Duta Mall dengan Lagu God Bless hingga Dream Theater
Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas
Megadeth Perdana Bawakan “Ride The Lightning” Metallica di Bogota, Dave Mustaine Tutup Lingkaran Sejarahnya
Sasirangan Naik Kelas, Persit Kembangkan Motif Todak jadi Tren Fashion
Kembali Muncul, Yandi Pratama Siap Ramaikan Lagi Industri Musik Nasional
Film Na Willa ‘Angkat Kehangatan Masa Kecil’

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:30 WITA

Yuk Tonton di Bioskop Kesayangan, Ini Film Terbaru

Kamis, 21 Mei 2026 - 02:13 WITA

Serock Band Batu Licin Curi Perhatian di Anniversary KPMRM ke-15

Sabtu, 16 Mei 2026 - 23:50 WITA

Legenda Rock Banua Bersatu di BlackStone, Guncang Duta Mall dengan Lagu God Bless hingga Dream Theater

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:45 WITA

Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas

Minggu, 3 Mei 2026 - 01:26 WITA

Megadeth Perdana Bawakan “Ride The Lightning” Metallica di Bogota, Dave Mustaine Tutup Lingkaran Sejarahnya

Berita Terbaru

Fase Kepulangan Jemaah Haji Indonesia 2026

Serambi

Kepulangan Jemaah Haji Indonesia Mulai Hari Ini

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:59 WITA

Verified by MonsterInsights