BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Willy Aditya Ketua DPP Partai NasDem membantah isu NasDem dan Gerindra merger. Menurutnya, yang dimaksud Ketua Umum NasDem Surya Paloh adalah political block.
“Gini teman-teman, biar tidak sesat berpikir. Ini kan tentang istilah, tapi istilah itu substansi. Saya bercanda itu harus teman-teman lihat apa sih referensi kita. Pak Surya tuh orang yang concern terhadap apa ya situasi politik kita. Apa referensi kita berpolitik itu political block,” kata Willy kepada wartawan di DPR RI, Senayan, Jakarta.
Willy menegaskan ‘merger’ merupakan istilah perusahaan dan tidak tepat untuk menggambarkan yang diinginkan Surya Paloh. Ia menyayangkan ada pihak-pihak yang memakai narasi ‘merger’.
“Gunakanlah istilah referensi yang tepat untuk sesuatu hal yang tepat. Jangan kemudian gebyah-uyah. Kalau lu nggak ngerti atau lu ingin mendiskreditkan, itu lain cerita. Saya mau tanya orang yang men-discourse-kan ini sedang mendiskreditkan NasDem dan Gerindra,” ucapnya.
Ia membahas pada masa lalu memang pernah terjadi fusi kepartaian, yakni partai-partai Islam menjadi PPP, sedangkan partai-partai nasionalis menjadi PDIP.
“Saya sebenarnya menyayangkan orang-orang yang tidak baca ini, Dia harusnya menangkap Pak Surya tuh orang yang berpikir out of the box. Kan kita selama ini berpikir cuma sekretariat bersama, partai koalisi. Koalisi itu dalam proses kandidasi. Sementara di dalam proses government kita tidak mengenal koalisi, kita kan presidensial. Pemerintahan koalisi itu dikenal di dalam parlementer,” ujar Willy.
“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah political block, blok politik, bukan merger. Apa itu political block? Ini adalah sebuah political engineering, bagaimana perjuangan-perjuangan kebijakan itu menjadi suatu tarikan napas, tidak transaksional. Kan selama ini kan transaksional banget ya,” lanjutnya.
Willy kemudian menjelaskan lebih lanjut maksud Surya Paloh dengan political block. Menurutnya, saat ini kerja sama politik antar partai cenderung minimalis.
“Pak Surya penuh dengan sebuah pertimbangan yang reflektif, kenapa? Ya kecenderungan partai politik kita di dalam proses kerja sama politik itu minimalis. yang ada ya teman-teman bisa lihat lah, nggak setuju gabung ke sini, nggak setuju ke sini. Tapi kita tidak pernah punya narasi, bagaimana kita bisa melakukan proses political engineering secara kolektif bersama-sama dan independensi itu tetap ada, yang mempersatukan kita adalah objektif,” imbuhnya.














