The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit hingga Akhir Hayat

The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit hingga Akhir Hayat

- Redaksi

Kamis, 6 Februari 2025 - 11:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

The Sin Nio. (Foto: Istimewa/Bomindonesia)

The Sin Nio. (Foto: Istimewa/Bomindonesia)

BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – The Sin Nio (dibaca Teh Sin Nyo) merupakan perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia asal Wonosobo yang turut berjuang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bahkan, ia mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin demi dapat gabung bergerilya dan tidak dipandang sebelah mata ketika melawan Belanda dengan parang dan bambu runcing.

Kala itu The Sin Nio yang menyamar jadi Moeksin, bergabung dengan pejuang lainnya dalam kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 di bawah komando Brigjen Sukarno.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut artikel Azmi Abubakar, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, keberanian wanita itu sangat luar biasa ketika bergerilya.

Bagaimana tidak, sedari awal ia hanya menggunakan senjata tradisional dan baru memiliki senjata api jenis Lee-Enfield (LE) setelah berhasil merampasnya dari pasukan Belanda.

Meski turut berjuang dalam melawan penjajah, The Sin Nyo tidak semata-mata langsung diakui sebagai Pahlawan Nasional. Pada 1976, ia baru memperoleh pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berdasarkan surat pengakuan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta.

Baca Juga :  Oei Hui-lan, Putri Raja Gula Semarang yang Jadi Ibu Negara China

Kendati begitu, surat pengakuan sebagai veteran tidak diiringi dengan hak pensiun. Ia baru mendapat uang pensiun sebesar Rp28.000/bulan baru cair beberapa tahun kemudian.

Rosalia Sulistiawati, salah satu cucu The Sin Nyo, bercerita neneknya menghabiskan waktu tua hidup di kontrakan kecil berukuran 2×3. Menurut Rosalia, neneknya kesulitan memperoleh pengakuan sebagai pejuang karena statusnya sebagai wanita sekaligus keturunan Tionghoa.

“Ada kebanggaan, tapi sedih saya punya Oma sampai harus seperti ini. Yang ternyata hanya ingin pengakuan dari negara yang kayaknya susah, karena keturunan Tionghoa. Jadi mungkin beda perlakuan,” kata Rosalia.

Sisa hidup The Sin Nio dilanda kesulitan hingga akhir hayatnya yang tutup usia pada 1985, meskipun ia telah berjuang melawan penjajah Belanda.

Sampai akhirnya pada November 2022 silam, Komnas Perempuan mendorong nama The Sin Nio sebagai pahlawan nasional dan ingin merubah persepsi bahwa “sejarah tentang kepahlawanan hanya milik laki-laki”.

Baca Juga :  Cerita Sakaruddin Pejuang 45 Yang Ikut Bergerilya Bersama Brigjen Hasan Basry

“Kita mengapresiasi apa yang beliau upayakan sebagai sebuah daya juang, mencintai negerinya,” kata anggota Komnas Perempuan Dewi Kanti.

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sampai 2022, tokoh yang memperoleh penghargaan pahlawan nasional berjumlah 200 orang dimana hanya ada 15 pahlawan perempuan“Keteladanan untuk diwariskan untuk bangsa ini bukan sekadar oleh laki-laki atau hanya sekadar pergerakan perjuangan, pergolakan fisik, tapi kami memaknai peran positif para perempuan sebagai pelopor perubahan,” jelas Dewi.

Namun, Dewi mengakui adanya polemik klasik terkait The Sin Nio di mata publik. Pandangan tentang kelayakan pribumi atau nonpribumi mendapat gelar pahlawan nasional itu memang masih menjadi masalah yang melekat di Indonesia.“Itu jadi isu sensitif, tapi bagi kami yang terpenting adalah pribumi atau nonpribumi yang diwacanakan publik, kami memaknai bahwa semua warga negara Indonesia yang hidup berpuluh tahun di Indonesia ini juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bernegara sesuai konstitusi,” imbuhnya.

bomindonesia

Editor : Mercurius

Sumber Berita: Indonesia defenece magazine

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”
Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat
Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004
Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan
Evolusi Nama Banjarmasih, Bandarmasih Hingga Banjarmasin
Festival Folk Song ’74 di Banjar Raya, Demam Musik Rakyat di Banjarmasin yang tak Pernah Benar-benar Padam
In Memoriam Rudy Laturete Cerita Pantera, Gang Tera, dan Jejak Rock yang Tak Pernah Mati

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 00:38 WITA

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”

Minggu, 7 Juni 2026 - 02:02 WITA

Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:49 WITA

Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:50 WITA

Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:22 WITA

Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights