BOMINDONESIA.COM,
Delapan puluh tahun merdeka, rakyat kecil masih menunjukkan cinta yang tulus pada negeri ini.
Dari gang sempit sampai pelosok desa, bendera Merah Putih berkibar gagah. Anak-anak berlari dalam lomba balap karung, pemuda memanjat pinang, warga bergotong royong memasang umbul-umbul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari kerja, dan beratnya hidup, semangat nasionalisme rakyat tetap menyala.
Mereka mencintai negeri ini tanpa pamrih.
Ironi di Balik Semarak Merdeka
Namun di sisi lain, mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan justru sibuk menguras isi negeri.
Pajak yang dikutip dari keringat rakyat, bukannya kembali dalam bentuk pelayanan, malah bocor ke kantong oknum.
Data resmi menunjukkan penerimaan pajak Indonesia anjlok 30% pada awal 2025.
Sementara itu, Indeks Persepsi Korupsi 2024 meski naik jadi 37, masih menempatkan Indonesia di urutan 99 dunia.
Kasus demi kasus menyeruak: dari dugaan korupsi Chromebook Rp9,9 triliun, hingga kerugian raksasa di Pertamina Rp193,7 triliun. Rakyat disuguhi ironi: diminta patuh bayar pajak, tapi uangnya dirampok penguasa.
Nasionalisme Rakyat vs Moralitas Elit
Rakyat kecil sudah membuktikan nasionalisme mereka: mengibarkan bendera, menjaga persatuan, bergotong royong demi lingkungan. Pertanyaannya, kapan para elit negeri ini bisa membuktikan nasionalisme dalam wujud sederhana: tidak korupsi, adil mengelola pajak, dan berpihak pada rakyat?
Usia 80 tahun bukan hanya usia tua, tapi usia matang. Indonesia seharusnya bisa lebih kuat, lebih adil, lebih bersih.
Jangan biarkan semangat rakyat kecil yang memanjat pinang dan memasang bendera hanya jadi tontonan, sementara penguasa terus memanjat kursi demi menguras isi negeri.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Semoga Merah Putih yang dikibarkan rakyat menjadi pengingat: bangsa ini bisa bertahan karena cinta tulus rakyat, bukan karena kelicikan para elit.
Penulis : Mercurius












