Oleh Mercurius
BOMINDONESIA.COM, Kamis malam itu, saya berada di dalam bus yang sedang menunggu keberangkatan dari Terminal Bungurasih, Surabaya.
Seperti biasa, para pedagang asongan naik turun, menawarkan barang dagangan mereka: headset murah, makanan ringan, mainan anak-anak. Terminal selalu sibuk, penuh suara dan lalu-lalang manusia yang saling bergegas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya bersama anak saya, seorang anak luar biasa yang hidup dengan ADHD.
Ia senang membentuk dan merangkai sesuatu dengan tangannya—kreativitas yang jadi kekuatan khasnya.
Ketika seorang pedagang menawarkan mainan yang cocok dengan minatnya, saya membelinya.
Namun sisanya, saya abaikan.
Dalam hati saya berkata: “Andai saya orang kaya, akan saya borong semua dagangan mereka.”
Lalu datanglah seorang remaja bertubuh kecil . Penampilannya sederhana dan wajah kekanakan.
Ia menawarkan tigakotak korek api (matchis) dalam satu paket .
Dalam hati saya, tanpa sadar muncul prasangka buruk: “Anak jalanan, paling juga bukan dagangan sendiri.
” Ya Allah, saya sadar—itu pikiran yang kotor, egois, dan terburu-buru.
Namun rasa iba tetap muncul, dan saya pun menawar.
Bukan karena korek apinya saya butuhkan, tapi karena ingin membantu.
Ia pun melepas barangnya walau dengan harga di bawah permintaannya.
Saya langsung memasukkan matchis itu ke dalam tas, tapi remaja itu segera berkata dengan sangat tulus,
“Dicoba dulu, Pak. Kalau gak nyala, saya ganti bungkus lain. Saya cuma jualin punya orang.”
Saya terdiam. Kaget. Malu. Hati saya seperti disayat. Anak ini jujur, bertanggung jawab, dan punya rasa hormat pada barang yang bukan miliknya—padahal ia hanya menjajakan korek api keluar masuk bus di malam hari.
Saat banyak remaja lain larut dalam kenakalan, geng motor, atau kebut-kebutan tak tentu arah, remaja ini memilih jalan yang lurus. Ia tidak mengemis, tidak menipu. Ia menjual, menawarkan, dan memastikan pembelinya puas.
Saya malu pada diri sendiri karena sempat menghakimi. Saya juga sedih karena saya hanya bisa mendoakannya dari dalam hati:
“Ya Allah, limpahkan rezeki kepada anak ini. Jadikan ia orang besar kelak, kuat dalam nilai, dan tetap jujur di dunia yang kian serakah. Jika ada rejeki pertemuan berikutnya, izinkan saya membantunya lebih layak.”
Kita sering bicara tentang kejujuran sebagai nilai mulia. Tapi malam itu, saya melihat kejujuran menjelma dalam sosok nyata—seorang remaja kecil, menjajakan korek api, memberi pelajaran besar pada saya: bahwa nilai sejati hidup tak tergantung pada status, tapi pada hati.
Dan saya, ayah yang belajar dari korek api yang menyala.
***












