BOMINDONESIA.COM
A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”Vito Corleone
Demikian kutipan dalam buku legendaris The Godfather dari sang Don Vito Corleone
Kalimat itu sederhana, tapi jika kita tarik ke politik hari ini, terasa menyengat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa arti keluarga dalam politik Indonesia? Bukankah rakyat adalah keluarga terbesar yang harusnya dijaga para penguasa?
Besok, Kalsel akan jadi saksi sejarah: Massa akan memenuhi DPRD Kalsel dengan tuntutan lantang.
Mereka datang bukan karena hobi turun ke jalan, melainkan karena merasa “keluarga” mereka, yakni rakyat, justru dikhianati.
Namun, pertanyaan satirnya: apakah para legislator akan berperan sebagai Don Corleone yang penuh perhitungan, menjaga loyalitas “keluarganya”—atau justru jadi Fredo, si anak lemah yang gampang tergoda dan akhirnya mengkhianati darah dagingnya sendiri?
Demo ini diharapkan tidak berujung anarkis, namun jadi pintu masuk dialog yang akan disampaikan ke para elit penguasa diseberang sana
Tapi satu hal pasti: rakyat sudah muak dengan drama politik yang seakan hanya theater of power.
Mereka ingin bukti nyata, bukan sekadar janji manis yang dibungkus jargon.
Dan kalau para elite di DPRD masih tak peka, jangan salahkan rakyat bila esok mereka tampil seperti Michael Corleone: dingin, tegas, dan tak segan “menghajar” dengan cara mereka sendiri.
Karena politik, sebagaimana mafia dalam The Godfather, selalu tentang loyalitas.
Pertanyaannya: loyal ke rakyat, atau loyal ke kekuasaan?
Suara lantang tak harus berujung ricuh, sebab keluarga, sahabat, dan masa depan menunggu kita pulang dengan selamat.
Untuk saudara-saudara yang besok akan menyuarakan aspirasi di DPRD Kalsel, mari jaga kedamaian.
Jangan terprovokasi. Ingat keluarga menanti di rumah, dan ingat pula aparat yang berjaga juga punya keluarga.












