Oleh : Hartiningsih dan Arief Anwar
BOMINDONESIA.COM – Aktivitas ziarah makam (kubur) merupakan warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak beberapa abad yang lalu.
Kegiatan ziarah makam/kubur sendiri dalam pengertian mengunjungi makam, baik orang tua, nenek/kakek dan sanak saudara lainnya, teman, mengunjungi para tokoh ulama, seperti Syekh, Habib, Guru, Kiyai, Sultan, Datu dan lain sebagainya. Disisi lain, Ziarah merupakan panggilan agama untuk meningkatkan pada dua hal : kehidupan orang yang di ziarahi, dan akibat dari perbuatan yang dilakukan dikemudian hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada masa sekarang ini, ziarah makam/kubur yang dilakukan masyarakat nampaknya terus meningkat. Keberadaan yang demikian ini mengindikasikan bahwa ziarah makam bukan hanya sebagai tradisi atau kebiasaan masyarakat, akan tetapi sudah berkembang menjadi trend wisata dengan jumlah kujungan wisata terbesar. Realitas seperti ini pula menjadikan kunjungan ziarah makam dikembangkan sebagai wisata religi.
Kalimantan Selatan yang dikenal memiliki sejumlah makam para wali, dengan demikian wajar jika provinsi tersebut menjadi salah satu objek destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi masyarakat. Wisatawan yang mengunjungi makam para wali Allah (Syekh, Habib, Guru, Kiyai, Datu) di Kalimantan Selatan pun bukan saja berasal dari kabupaten kota Kalimantan Selatan, melainkan berasal dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari manca negara seperti dari Singapura, Malaysia serta dari Timur Tengah.
Disisi lain, perjalanan wisata yang mereka lakukan sebagian besar tidak hanya perorangan atau kelompok keluarga, melainkan perjalanan dilakukan oleh kelompok atau rombongan dalam jumlah cukup besar. Kemudian perjalanan itu dilakukan keberbagai makam dengan waktu lebih dari dua sampai tiga hari. Berdasarkan fenomena yang sering terjadi bahwa kegiatan wisata religi yang banyak dilakukan menjelang Ramadhan dan setelah lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha serta liburan anak sekolah.
Diketahui bersama, terdapat beberapa tempat/makam yang sering menjadi destinasi wisata religi bagi para pengunjung di Kota Banjarmasin misalnya adalah Kubah Basirih atau makam keramat Habin Hamid bin Abbas Bahasyim atau lebih familiar dengan sebutan Habib Basirih. Selain itu, Makam Sultan Suriansyah yang merupakan raja pertama kesultanan Banjar dan Masjid Kesultanan.
Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Tempat destinasi wisata religi yang juga ramai pengujung adalah Makam KH. Ahmad Zuhdiannoor atau Abah Mufti, seorang ulama dari Surgi Mufti.
Kemudian Syekh Mufti Haji Muhammad Amin Al Banjari atau lebih dikenal dengan Datu Amin Benua Anyar. Kota Banjarbaru pun memiliki destinasi wisata religi yang juga ramai pengunjung yakni Makam Syarifah Nur Maya.
Kabupaten Banjar, destinasi wisata religi yang tidak pernah sepi pengunjung terdiri dari Makam Syekh Muhamammad Arsyad Al Banjari atau dikenal dengan sebutan Datu Kelampayan, kemudian Makam KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih familiar dengan sebutan Abag Guru Sekumpul, beliau merupakan turunan ke delapan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Selanjutnya tempat ibadah yakni Masjid Agung Al Karomah Martapura masjid tersebut merupakan kebanggan warga setempat dan menjadi masjid unik, yang mana tiang guru selelu digantungi kembang barenting.
Kabupaten Tanah Laut, terdapat destinasi wisata religi yang juga ramai pengujung yakni Makam Sultan Hamidiansyah atau lebih dikenal dengan sebutan Makam Datu Pamulutan di Pulau Datu wilayah Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan Kab Tanah Laut.
Selain itu, terdapat pula Makam Datu Ahmad di Desa Lok Batu Kelurahan Karang Taruna Kecamatan Pelaihari.
Di Kabupaten Tanah Bumbu. Sejumlah makam yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain makam Al Habib Musyaffa Ahmad Al Idrus, Makam Mufti Syekh H.M As’ad dan Makam ibu Syarifah Aminah binti Al Habib Salim Assegaf.
Di Kabupaten Kota Baru, terdapat beberapa makam di Kabupaten Kotabaru yang sering dikunjungi wisatawan antara lain Makam KH Sulaiman Nain, Habib Thahir, Habib Umar dan Habib Alwi.
Kabupaten Tapin, beberapa destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan antara lain : Makam Datu Sanggul atau Syekh Muhammad Abussamad yang berada di Desa Tatakan Kecamatan Tapin Selatan. Makam Datu Nuraya di Kecamatan Tatakan dan Makam Datu Qabul di Desa Baulin Margasari Kecamatan Candi Laras Selatan.
Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sejumlah destinasi wisata religi yang cukup ramai dikunungi wisatawan antara lain : Makam Syekh Ahmad (Datu Balimau) di Kecamatan Kalumpang, Makam KH. Abdul Qadir Noor ( Datu Janggut) dan Guru Kapa tau KH. Muhammad Ridwan Baseri . mMakam Habib Abukar,dan Makam Datu Taniran.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan selain maka juga masjid antara lain, Makam Wali Katum dan Masjid A.A’la serta Masjid Palajau.
Di Kabupaten Hulu Sungai Utara kunjungan wisata religi yang banyak dilakukan pengujung adalah ke Masjid Sungai Banar dan Masjid At Taqwa Untuk makam. Makam Waki Kadap dan Makam Datu Salaiman. Kabupaten Balangan, beberapa objek wisata religi yang ramai pengunjung adalah Makam Datu Kandang Haji, Kubah Amir Husin di Desa Lampihong Kubah Datu Martika dan Datu Tungkut Kubah Datu Diang Kartika serta Masjid Al Akbar. Kabupaten Tabalong.
Sejumlah destinasi wisata religi yang ramai pengunjung di Kabupaten Tabalong Desa Binturu dan Makam ulama KH. Muhammad Arif bin Hamim.
Di Kabupaten Barito Kuala pun memiliki destinasi wisata religi yang juga ramai pengunjung antara lain Makam KH. Abdussamad, makam tersebut merupakan objek wisata religi andalan Kabupaten Barito Kuala. Kemudian Makam Datu Aminin di Desa Pulau Sugara Kecamatan Alalak dan Makam Datu Kahayyan di Desa Barangas.
Dipahami bersama, ziarah makam/kubur atau wisata religi merupakan wisata khusus yang banyak memiliki nilai manfaat bagi pengunjung baik manfaat mental maupun spiritual.
Pengunjung lebih sadar untuk introspeksi bahwa pada saatnya nanti kita juga akan kembali kehariban NYA, sehingga seseorang dapat meningkat keimanannya, menambah wawasan keagamaan, disamping juga menambah wawasan budaya, sejarah dan lain sebagainya.
Penulis : Peneliti Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalsel












