Fabel: Tikus di Menara, Elang di Langit – bomindonesia.com

Fabel: Tikus di Menara, Elang di Langit

- Redaksi

Rabu, 14 Mei 2025 - 23:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mercurius

Mercurius

BOMINDONESIA.COM – -Di sebuah menara tinggi yang menjulang, seekor tikus berdiri angkuh, bertahta bak maharaja.

Dari ketinggian itu, ia memandang rendah pada dunia di bawahnya. Tikus-tikus lain menatapnya penuh kekaguman, menyembahnya layaknya dewa.

Mereka lupa bahwa ia tetap seekor tikus, bukan karena tahtanya berubah, tapi karena sikap dan persepsi yang memuja rupa, bukan esensi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun seperti halnya dunia, kuasa tidak pernah kekal. Nun jauh di langit, seekor elang membelah awan, mencari mangsa bukan untuk berkuasa, tapi untuk hidup.

Tanpa singgasana, tanpa pengikut, sang elang tetap menjadi penguasa sejati. Ketika mata elang mengarah pada sang “maharaja”, ketakutan pun menyergap.

Tikus itu panik, sadar bahwa menara yang ia banggakan bukan tempat aman, melainkan panggung yang menjadikannya sasaran empuk.

Fabel ini mengingatkan kita: di atas langit masih ada langit. Kesombongan manusia sering kali lahir dari ilusi kuasa dan pujian, tapi dunia tak tunduk pada ego.

Ketinggian bukan tentang posisi, melainkan tentang makna keberadaan. Tikus di puncak menara hanyalah simbol bagaimana manusia sering tertipu oleh kedudukan dan penghormatan semu. Sementara sang elang—yang diam, bebas, dan kuat—melambangkan kekuatan sejati: sederhana namun tajam, rendah hati namun berwibawa.

Dalam hidup ini, kita sering menjadi si tikus: membangun menara, mengejar pengakuan, mengharap disembah. Tapi semesta selalu menghadirkan “elang” yang membuka mata kita bahwa segala kemegahan bisa runtuh dalam satu kepakan sayap waktu.

Fabel ini bukan hanya kisah hewan, melainkan cermin kehidupan. Di atas setiap kuasa, selalu ada kuasa yang lebih besar. Dan pada akhirnya, yang membedakan bukan siapa yang di atas, tapi bagaimana kita memaknai tempat kita di dunia.

Penulis : Mercurius

Editor : Mercurius

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

INDONESIA
81 Tahun Merdeka, Masihkah Kepak Sayap Garuda Menaungi?
Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu
33 Tahun Terpisah, Ritchie Blackmore Akhirnya Kembali Sepanggung dengan Deep Purple
Jajaran SKPD Hingga Umum Bagikan 7 Ribu Bendera Merah Putih untuk Warga Sambut HUT Ke-81 RI
Harapan Kepada Jefrie Fransyah Agar Tata Kelola Persampahan di Kota Seribu Sungai Lebih Baik
Saat Listrik Padam, Mana yang Lebih Efektif, Video Call atau Terbang ke Jakarta?
Gubernur Pantau PLTU Asam-Asam via Video Call melalui Kabinda

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:36 WITA

INDONESIA

Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:53 WITA

81 Tahun Merdeka, Masihkah Kepak Sayap Garuda Menaungi?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 02:20 WITA

Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:43 WITA

33 Tahun Terpisah, Ritchie Blackmore Akhirnya Kembali Sepanggung dengan Deep Purple

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:23 WITA

Jajaran SKPD Hingga Umum Bagikan 7 Ribu Bendera Merah Putih untuk Warga Sambut HUT Ke-81 RI

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Cegah ISPA, Dinkes Banjarmasin Bagikan 20 Ribu Masker ke Masyarakat

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:24 WITA

Banjarmasin Bungas

Cegah ISPA, Dinkes Banjarmasin Bagikan 20 Ribu Kepada Masyarakat

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:14 WITA

Banjarmasin Bungas

Warga Banjar Desak Pemkot Banjarmasin Kelola Majukan Makam ‘Raja Banjar’

Rabu, 26 Agu 2026 - 18:56 WITA

Verified by MonsterInsights