BOMINDONESIA.COM, JAKARTA– Hujan sempat turun di Gang Buntu, Kelurahan Grogol Selatan, Minggu sore itu.
Namun, langkah warga menuju pendopo serbaguna RT 10 RW 10 tak surut.
Di tempat sederhana yang sehari-hari menjadi ruang berkumpul—mulai dari bermain tenis meja hingga sekadar berbincang santai—suasana sore itu terasa berbeda.
Kursi-kursi plastik tersusun, tawa terdengar bersahutan, dan aroma opor ayam menguar dari meja meja yang disusun rapi.
Halal bihalal tahunan kembali digelar.
Sejak pukul 15.00 WIB, warga berdatangan.
Sebagian saling bersalaman, sebagian lain langsung duduk, melepas rindu dengan wajah-wajah yang mungkin jarang ditemui.
Ada yang kini tinggal di Depok, Bekasi, bahkan Jawa Barat—namun sore itu, mereka kembali seperti tak pernah benar-benar pergi.
Di atas meja, ketupat Betawi tersaji bersama semur tahu, puding, dan buah-buahan.
Menu sederhana, namun terasa istimewa karena dimasak bersama.
Malam sebelumnya, para ibu sudah bergotong royong menyiapkan semuanya, bahkan hingga larut.
“Kalau sudah begini, capeknya hilang,” celetuk Bu Yayah salah satu dari ibu ibu yang berkumpul di rumah Ketua RT sambil tersenyum.
Ketua RT 10 RW 10, Ari Haryanto, yang sejak awal halal bihalal berdiri di depan pendopo sibuk menyalami satu per satu warganya yang datang.
Bagi pengusaha muda ini , halal bihalal bukan sekadar acara tahunan, tapi momen menjaga ikatan yang sudah lama terjalin.
“Sudah tiga tahun ini rutin kita gelar. Alhamdulillah, walau hujan sempat turun, warga tetap datang,” kata ketua RT yang membawahi dua makam di kawasan Grogol Selatan itu .
Di lingkungan dengan sekitar 250 warga itu, rasa memiliki masih kuat.

Bahkan saat Pilkada, jumlah pemilih bisa mencapai 350 orang—banyak yang sudah pindah, namun tetap merasa bagian dari tempat ini.
Di sudut lain, Ustad H. Murad Latif tampak duduk santai, menyapa warga satu per satu.
Di usianya yang sudah mencapai 80 tahun, ia masih menjadi bagian dari denyut kehidupan kampung itu—bukan sebagai tamu, melainkan sebagai warga yang telah lama tumbuh bersama lingkungan tersebut.
“Dari dulu memang begini. Warganya akrab,” ucapnya mantan Ketua RT selama 35 tahun ini .
Ia mengenang bagaimana hubungan antarwarga tak pernah benar-benar pudar.
Bahkan hingga kini, ketika generasi sudah berganti, kehangatan itu tetap terasa.
Apalagi sang Ustadz juga bertemu kembali dengan para murid murid mengaji asuhannya di Mushola Nursa’addah di gang tersebut
Sore beranjak menuju Maghrib.
Gelak tawa masih terdengar, anak-anak berlarian, dan obrolan seakan tak ada habisnya.
Di tengah kota yang terus bergerak cepat, Gang Buntu sore itu seperti menahan waktu sejenak.
Di tempat itu, silaturahmi bukan sekadar tradisi.
Ia hidup, tumbuh, dan dijaga—dari dapur sederhana, dari cerita lama, dan dari orang-orang yang selalu kembali.
Penulis Editor Mercurius














