BOMINDONESIA.COM, Rabu24 September 2025, Kota Banjarmasin resmi menapaki usia ke-499.
Hampir lima abad perjalanan kota seribu sungai ini bukan sekadar angka; setiap arus dan sudutnya menyimpan cerita panjang dalam menghadapi zaman, sekaligus mempertahankan identitas budaya sungainya.
Beragam agenda dipersiapkan pemerintah kota untuk memeriahkan perayaan tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mulai dari program balik nama gratis rekening PDAM, lomba fotografi kehidupan sungai, lomba vlog & cinematic, lomba ilustrasi digital ikon kota, hingga BAKUL Fest (Banjarmasin Kuliner Festival) yang menampilkan cita rasa khas Banjar sepanjang September.
Ada pula Banjarmasin Art Week, Ba’ayun Maulid, hingga lomba kelayangan dandang—semua menjadi bukti bahwa ulang tahun kota bukan sekadar pesta seremonial, melainkan ruang ekspresi bagi masyarakat lintas generasi.
Pastinya juga Festival Jukung Tanglong
warna warni yang menghidupkan Sungai Martapura dan menyedot ribuan warga Kota
Namun, sorotan khusus tahun ini jatuh pada festival musik bertajuk Banjarmasin Phoria Band Competition Volume 1 memperebutkan Piala Wali Kota Banjarmasin.
Sabtu malam, 20 September 2024, panggung di Siring depan Balai Kota kembali bergemuruh setelah lebih dari satu dekade cenderung didominasi kegiatan budaya dan keagamaan.
Kehadiran Kaisar, band rock asal Solo yang pernah meraih juara 1 Festival Musik Rock se-Indonesia tahun 1991, menjadi bintang tamu. Bagi sebagian warga, nama ini mungkin terasa asing, apalagi generasi muda yang lebih mengenal musisi baru. Kurangnya sosialisasi membuat banyak komunitas rock lokal tidak sepenuhnya mengetahui perhelatan ini.
Akibatnya, penonton cenderung pasif, meski tetap larut saat dua lagu pamungkas—“Garis Bintang” dan “Kerangka Langit”—membahana, membawa nostalgia era 90-an.
Meski demikian, inisiatif ini tetap layak diapresiasi.
Wali Kota HM Yamin dan Wakil Wali Kota Hj Ananda membuka ruang baru,
mengingatkan pada almarhum HM Irwan Anshari—mantan wakil wali kota sekaligus gitaris yang dikenal penggemar musik rock.
Dari sini, panggung Siring menemukan kembali jati dirinya: bukan sekadar ruang ekspresi budaya tradisional, tetapi arena bagi pelajar, musisi muda, dan komunitas untuk menyalurkan kreativitas.
Terlepas dari tantangan infrastruktur maupun pelayanan publik, upaya menghidupkan kembali denyut musik di panggung kota patut diacungi jempol.
Seni dan musik bukan sekadar hiburan; mereka membangun karakter sebuah kota, menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki warganya.
HUT ke-499 Kota Banjarmasin menjadi momentum untuk merangkul identitas: kota sungai yang ramah, religius, kreatif, dan terbuka pada keragaman ekspresi warganya.
Selamat ulang tahun ke-499, Kota Banjarmasin.
Semoga terus maju, tetap berakar pada budaya, dan mengalirkan energi kehidupan seperti Sungai Martapura yang tak pernah berhenti.
Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia.com)












