BOMINDONESIA.COM
Saat membuka media sosial, saya terpaku pada satu unggahan: pertemuan antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Yok Koeswoyo, salah satu legenda grup musik Koes Plus.
Ada kesederhanaan yang menyentuh—dua generasi, dua dunia besar, tapi dipertemukan oleh satu hal yang sama: kecintaan pada seni.
SBY, sebagai mantan Presiden sekaligus tokoh TNI yang ikut merumuskan fondasi reformasi melalui UU TNI, kembali memperlihatkan sisi humanis yang selama ini tidak pernah jauh darinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak orang mengenalnya sebagai jenderal intelektual, birokrat, hingga negarawan.
Tetapi ada sisi lain yang justru membuatnya membumi: ia adalah seorang penikmat seni sejati.
Ini bukan hal baru. Jejak estetiknya bisa ditelusuri di mana-mana—dari puluhan lukisan yang dibuatnya, pameran galeri yang ia gelar, hingga momen-momen ketika ia tampil membawakan lagu-lagu band yang jauh lebih muda darinya.
Publik tentu masih ingat ketika SBY menyanyikan “Pelangi di Matamu” dari Jamrud pada masa awal kampanye, atau ketika ia membawakan lagu-lagu ska dari Tipe-X tanpa kehilangan energi.
Di situ tampak bahwa hobi seni bagi SBY bukan sekadar pencitraan atau selingan, melainkan bagian dari karakter dasarnya.
Pertemuannya dengan Yok Koeswoyo semakin menegaskan itu.
Ada rasa “kulonuwun” yang kuat—sebuah bentuk penghormatan, bahwa karya seni dan hak cipta adalah produk peradaban yang harus dihargai.
Dengan mendatangi Yok secara langsung, SBY memperlihatkan bagaimana seorang tokoh publik memperlakukan seniman: bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Dan menariknya, obrolan mereka bukan sekadar nostalgia.
Dalam postingan itu disebut bahwa SBY berniat membuat tribute khusus untuk menghormati karya-karya Koes Plus.
Sebuah langkah sederhana, namun menunjukkan bahwa SBY memahami bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi warisan budaya.
Di masa pensiunnya, SBY tampak menemukan ritme hidup yang semakin jernih: berkarya, berkesenian, dan merawat ingatan kolektif Indonesia.
Tidak banyak mantan presiden yang mengambil jalur ini—bukan dengan ceramah atau hiruk pikuk politik, melainkan dengan kanvas, nada, dan perjumpaan humanis dengan para pelaku seni.
Barangkali—untuk meminjam judul lagu yang pernah ia nyanyikan—ada “pelangi” di mata SBY hari ini. Pelangi yang lahir dari perjalanan panjang, luka politik, suka-duka kekuasaan, tetapi kini diterjemahkan menjadi seni dan rasa syukur.
Dalam usia dan posisinya saat ini, SBY memberi pelajaran sederhana: bahwa masa pensiun bukan akhir, melainkan ruang untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.
Seni mempertemukannya dengan publik, dengan legenda seperti Yok Koeswoyo, dan juga dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah letak warna terindahnya.
Penulis Mercurius
(wartawan bomindonesia.com)












