Perempuan Pelabuhan di Balik Puncak Mudik: Ketangguhan atau Potret Ketimpangan?

Perempuan Pelabuhan di Balik Puncak Mudik: Ketangguhan atau Potret Ketimpangan?

- Redaksi

Sabtu, 21 Maret 2026 - 20:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Mercurius )

(Mercurius )

BOMINDONESIA.COM,- Jarum jam menunjuk pukul 19.00 Wita.

Kapal KM Dharma Rucitra I bersiap berlayar menuju Surabaya dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kamis (19/3/2026).

Di tengah padatnya puncak arus mudik, kapal milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu menjadi pelayaran terakhir sebelum kembali beroperasi pada 25 Maret atau H+3 Lebaran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik riuh penumpang yang berdesakan, ada wajah lain yang kerap luput dari perhatian.

Wajah-wajah perempuan tangguh yang mengais rezeki di sela-sela hiruk pikuk pelabuhan.

“Nama saya Mawar,” ucap seorang penjual kopi singkat, usai melayani pembeli.

Kopi yang dijualnya sederhana, dibungkus plastik dengan gelas kecil seharga Rp5.000.

Ada pula yang menjajakan air mineral dan nasi bungkus seharga Rp15.000.

Mereka hilir mudik, naik turun tangga kapal, berpacu dengan waktu sebelum kapal benar-benar lepas sandar.

Pemandangan ini kerap dianggap sebagai potret ketangguhan perempuan. Namun, benarkah hanya itu?

Di balik kerja keras tanpa keluhan, tersimpan realitas yang lebih dalam: keterpaksaan ekonomi.

Baca Juga :  Daihatsu Banjarbaru Berbagi, Ajak Anak Yatim Bukber dan Doa Bersama

Banyak dari mereka yang harus tetap bekerja di tengah momen yang seharusnya menjadi ruang berkumpul bersama keluarga.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Banjarmasin.

Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kondisi serupa juga mudah ditemui. Bahkan hingga larut malam atau dini hari, perempuan-perempuan tetap hadir menawarkan dagangan demi menyambung hidup.

Momen menjelang Lebaran, yang bagi sebagian orang identik dengan belanja, mudik, dan kebersamaan, justru menjadi waktu paling sibuk bagi mereka.

Harapan mereka pun sederhana.

“Bisa cukup rejeki saja sudah Alhamdulillah,” ucap Mawar, sembari kembali menawarkan dagangannya.

Kalimat itu sederhana, namun menyiratkan realitas yang tidak sederhana.

Di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup dan tekanan ekonomi, banyak perempuan tidak lagi sekadar menjadi pelengkap dalam rumah tangga, tetapi justru menjadi penopang utama.

Sebagian membantu suami, sebagian lainnya menjadi tulang punggung keluarga sebagai orang tua tunggal.

Baca Juga :  Minum Alkohol Sudah Jadi Budaya, Ini Negaranya

Pertanyaannya, sampai kapan ketangguhan ini harus terus dipuji tanpa diiringi perhatian yang lebih serius?

Negara dan para pemangku kebijakan semestinya tidak hanya melihat mereka sebagai simbol perjuangan, tetapi juga sebagai kelompok yang membutuhkan perlindungan dan pemberdayaan.

Sektor informal seperti ini masih minim jaminan, baik dari sisi keamanan kerja, kesehatan, hingga keberlanjutan ekonomi.

Ketangguhan perempuan pelabuhan memang patut diapresiasi. Namun di saat yang sama, ia juga menjadi cermin bahwa masih ada ketimpangan yang belum terselesaikan.

Di tengah hiruk pikuk pelabuhan dan deru mesin kapal yang berangkat membawa para pemudik menuju kampung halaman, perempuan-perempuan itu tetap bertahan.

Mengais rezeki dengan cara mereka sendiri, tanpa banyak pilihan.

Mereka bukan sekadar cerita inspiratif.

Mereka adalah pengingat bahwa di balik kemeriahan Lebaran, masih ada perjuangan sunyi yang terus berlangsung.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin. 🌙✨

Penulis :  Mercurius

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaksa Ungkap Modus Penyelundupan Pil Ekstasi ke Penjara, Libatkan Oknum Sipir
Ngamuk Diduga Karena “Bisikan”, Pria di Sungai Pinang Bacok Tiga Orang, Tetangga Tewas di Perjalanan ke RS
Susu, Buah dan Media Sosial
Momentum HUT ke-1 Amanah Medical Centre, Wali Kota Yamin Doakan Kemajuan
Mengidolakan Indra Lesmana, Yandi Pratama Mulai Mendalami Musik Jazz dan Dunia Workshop Musik Nasional
Kemana Aliran Retribusi Sampah Dari Rekening Ledeng? Berapa Nilainya?
Anggota Persit Asal Banua Tetap Berkarya dan Melestarikan Kain Sasirangan dimanapun Suami Bertugas
May Day Banjarmasin 2026 Dimaknai Dengan Rasa Kebersamaan

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:33 WITA

Jaksa Ungkap Modus Penyelundupan Pil Ekstasi ke Penjara, Libatkan Oknum Sipir

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:17 WITA

Ngamuk Diduga Karena “Bisikan”, Pria di Sungai Pinang Bacok Tiga Orang, Tetangga Tewas di Perjalanan ke RS

Senin, 11 Mei 2026 - 00:40 WITA

Susu, Buah dan Media Sosial

Minggu, 10 Mei 2026 - 20:13 WITA

Momentum HUT ke-1 Amanah Medical Centre, Wali Kota Yamin Doakan Kemajuan

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:53 WITA

Mengidolakan Indra Lesmana, Yandi Pratama Mulai Mendalami Musik Jazz dan Dunia Workshop Musik Nasional

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights