BOMINDONESIA.COM,- Jarum jam menunjuk pukul 19.00 Wita.
Kapal KM Dharma Rucitra I bersiap berlayar menuju Surabaya dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kamis (19/3/2026).
Di tengah padatnya puncak arus mudik, kapal milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu menjadi pelayaran terakhir sebelum kembali beroperasi pada 25 Maret atau H+3 Lebaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di balik riuh penumpang yang berdesakan, ada wajah lain yang kerap luput dari perhatian.
Wajah-wajah perempuan tangguh yang mengais rezeki di sela-sela hiruk pikuk pelabuhan.
“Nama saya Mawar,” ucap seorang penjual kopi singkat, usai melayani pembeli.
Kopi yang dijualnya sederhana, dibungkus plastik dengan gelas kecil seharga Rp5.000.
Ada pula yang menjajakan air mineral dan nasi bungkus seharga Rp15.000.
Mereka hilir mudik, naik turun tangga kapal, berpacu dengan waktu sebelum kapal benar-benar lepas sandar.
Pemandangan ini kerap dianggap sebagai potret ketangguhan perempuan. Namun, benarkah hanya itu?
Di balik kerja keras tanpa keluhan, tersimpan realitas yang lebih dalam: keterpaksaan ekonomi.
Banyak dari mereka yang harus tetap bekerja di tengah momen yang seharusnya menjadi ruang berkumpul bersama keluarga.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Banjarmasin.
Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kondisi serupa juga mudah ditemui. Bahkan hingga larut malam atau dini hari, perempuan-perempuan tetap hadir menawarkan dagangan demi menyambung hidup.
Momen menjelang Lebaran, yang bagi sebagian orang identik dengan belanja, mudik, dan kebersamaan, justru menjadi waktu paling sibuk bagi mereka.
Harapan mereka pun sederhana.
“Bisa cukup rejeki saja sudah Alhamdulillah,” ucap Mawar, sembari kembali menawarkan dagangannya.
Kalimat itu sederhana, namun menyiratkan realitas yang tidak sederhana.
Di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup dan tekanan ekonomi, banyak perempuan tidak lagi sekadar menjadi pelengkap dalam rumah tangga, tetapi justru menjadi penopang utama.
Sebagian membantu suami, sebagian lainnya menjadi tulang punggung keluarga sebagai orang tua tunggal.
Pertanyaannya, sampai kapan ketangguhan ini harus terus dipuji tanpa diiringi perhatian yang lebih serius?
Negara dan para pemangku kebijakan semestinya tidak hanya melihat mereka sebagai simbol perjuangan, tetapi juga sebagai kelompok yang membutuhkan perlindungan dan pemberdayaan.
Sektor informal seperti ini masih minim jaminan, baik dari sisi keamanan kerja, kesehatan, hingga keberlanjutan ekonomi.
Ketangguhan perempuan pelabuhan memang patut diapresiasi. Namun di saat yang sama, ia juga menjadi cermin bahwa masih ada ketimpangan yang belum terselesaikan.
Di tengah hiruk pikuk pelabuhan dan deru mesin kapal yang berangkat membawa para pemudik menuju kampung halaman, perempuan-perempuan itu tetap bertahan.
Mengais rezeki dengan cara mereka sendiri, tanpa banyak pilihan.
Mereka bukan sekadar cerita inspiratif.
Mereka adalah pengingat bahwa di balik kemeriahan Lebaran, masih ada perjuangan sunyi yang terus berlangsung.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin. 🌙✨
Penulis : Mercurius












