BOMINDONESIACOM, TEHERAN – Sayed Mojtaba Hosseini Khamenei (56) menjadi perbincangan seluruh dunia setelah resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan ayahnya Ayatullah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara Israel pada 28 Februari 2026.
Majelis Pakar Iran yang merupakan lembaga ulama tertinggi di negeri itu memilih dan menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pucuk kepemimpinan baru Republik Islam Iran dalam sidang darurat, Minggu (8/3/2026) waktu setempat.
Mojtaba merupakan satu dari enam anak Ali Khamenei. Dia selamat dari serangan udara Israel pada akhir bulan lalu yang merenggut nyawa sang ayah. Namun, istri tercintanya Zahra Haddad-Adel dan seorang putranya ikut tewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi terjadi di tengah situasi keamanan yang tegang di Iran. Beberapa pengamat menilai proses suksesi berlangsung cepat untuk menjaga stabilitas politik dan konsolidasi kekuasaan, terutama di kalangan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Siapa Mojtaba Hosseini Khamenei?
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota religius di wilayah timur Iran. Dia bukan sosok yang disukai oleh musuh Iran, seperti Israel dan Amerika Serikat.
Pasalnya, Mojtaba dikenal sebagai ulama garis keras yang selama bertahun-tahun memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan, meski tidak memegang jabatan resmi dalam struktur pemerintahan.
Sebagai anak Ali Khamenei, Mojtaba disebut-sebut memiliki akses khusus ke Kantor Pemimpin Tertinggi, pusat kekuasaan penting dalam sistem politik Iran. Lembaga ini mengawasi berbagai sektor strategis, mulai dari keamanan, peradilan, hingga penunjukan pejabat penting di negara itu.
Mojtaba juga disebut memiliki jaringan kuat di lembaga keamanan Iran. Pada masa Perang Iran-Irak pada 1980-an. Ia dilaporkan bertugas di Batalion Habib ibn Mazahir, unit sukarelawan yang terhubung dengan IRGC.
Kedekatan dengan lembaga keamanan tersebut dinilai memperkuat posisinya dalam proses suksesi kepemimpinan Iran. Hubungan dengan IRGC dianggap penting di tengah situasi politik dan keamanan yang tidak menentu.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba jarang tampil di depan publik. Namun, sejumlah laporan menyebut ia memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan sensitif di pemerintahan Iran.
Dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, Iran memasuki babak baru dalam kepemimpinan politiknya. Banyak pihak kini menyoroti bagaimana ia akan mengelola kekuasaan dan menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Jarusalem Post menyebut Mojtaba Khamenei sebagai sosok kontroversial dan berbahaya. Media Israel itu menuding Mojtaba terlibat dalam kerusuhan setelah pemilihan presiden Iran pada 2009.
“Selama bertahun-tahun, tokoh-tokoh reformis dan aktivis oposisi menuduh dia memainkan peran di balik layar dalam mengoordinasikan penindasan dan membentuk keputusan di dalam rezim,” tulis media itu.












