Apatis Blues

Apatis Blues

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 05:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada ironi yang sulit diterima akal sehat ketika dugaan korupsi justru menyentuh program yang diperuntukkan bagi anak-anak sekolah

Di saat banyak orang tua berjuang memenuhi kebutuhan keluarga di tengah tekanan ekonomi, negara menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai harapan agar anak-anak tetap mendapatkan asupan yang layak.

Namun harapan itu kini tercoreng setelah Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bersama sejumlah pihak lainnya sebagai tersangka dalam dugaan korupsi program tersebut.

Yang membuat publik geram bukan semata besarnya nilai kerugian negara yang sedang diselidiki.
Kemarahan muncul karena yang diduga dipermainkan bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan hak anak-anak untuk memperoleh makanan yang layak, tumbuh sehat, dan menatap masa depan yang lebih baik.

Penyidik mengungkap adanya dugaan yayasan yang terafiliasi dengan para tersangka menerima insentif bernilai miliaran rupiah setiap hari melalui skema pelaksanaan program tersebut.

Angka yang mungkin hanya terlihat sebagai deretan nol dalam dokumen penyidikan, tetapi bagi rakyat kecil, jumlah itu adalah sesuatu yang nyaris mustahil dibayangkan.

Baca Juga :  China Balas Dendam Usai Diblokir AS Terus-menerus

Di sudut pasar, seorang penjual sapu harus menunggu pembeli sejak pagi hingga petang demi membawa pulang uang yang belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di jalanan, seorang tukang becak mengayuh tenaga di bawah terik matahari, berharap mendapat beberapa penumpang agar dapur tetap mengepul malam nanti.

Buruh harian, pedagang kaki lima, nelayan, petani, hingga para pekerja serabutan lainnya harus bermandikan keringat setiap hari hanya untuk bertahan hidup.

Bahkan sering kali hasil kerja keras itu masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, ketika membaca dugaan adanya aliran uang miliaran rupiah setiap hari dari program yang ditujukan bagi anak-anak sekolah, kemarahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam: rasa muak.

Kasus ini menambah panjang daftar kekecewaan publik. Hampir setiap hari media massa menyajikan berita serupa.

Korupsi pengadaan. Korupsi proyek. Korupsi bantuan sosial. Korupsi dana publik.
Seolah tidak ada sektor yang benar-benar steril dari praktik yang merampas hak masyarakat.

Baca Juga :  Langkah Berani Banjarmasin Atasi Krisis Sampah

Di media sosial, kemarahan itu terlihat nyata.
Ada yang mengecam. Ada yang menyindir. Ada pula yang memilih menertawakan keadaan karena merasa kritik dan protes sering kali tidak mengubah apa-apa.

Lama-kelamaan muncul kelelahan kolektif.
Bukan karena masyarakat tidak peduli, melainkan karena terlalu sering dikecewakan oleh cerita yang berulang.

Ketika satu kasus belum tuntas, kasus lain sudah menunggu untuk mengisi ruang pemberitaan.

Yang paling berbahaya bukanlah kemarahan publik. Kemarahan masih menunjukkan bahwa masyarakat peduli.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika kemarahan itu perlahan berubah menjadi rasa muak.

Muak karena terlalu sering melihat pengkhianatan terhadap amanah.

Muak karena terlalu sering mendengar janji perbaikan yang berakhir dengan cerita yang sama.

Karena pada akhirnya, yang habis bukan hanya uang negara.
Yang habis adalah kesabaran rakyat.

Daripada pusing mikirin dompet yang makin ramping.. Ah… lebih baik kumainkan blues-ku ….

Entah esok, berita apa lagi yang akan datang.

Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia com)

bomindonesia
Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Api Perang Narasi “Pesta Babi”
Jaksa Ungkap Modus Penyelundupan Pil Ekstasi ke Penjara, Libatkan Oknum Sipir
Ngamuk Diduga Karena “Bisikan”, Pria di Sungai Pinang Bacok Tiga Orang, Tetangga Tewas di Perjalanan ke RS
Susu, Buah dan Media Sosial
Momentum HUT ke-1 Amanah Medical Centre, Wali Kota Yamin Doakan Kemajuan
Mengidolakan Indra Lesmana, Yandi Pratama Mulai Mendalami Musik Jazz dan Dunia Workshop Musik Nasional
Kemana Aliran Retribusi Sampah Dari Rekening Ledeng? Berapa Nilainya?
Anggota Persit Asal Banua Tetap Berkarya dan Melestarikan Kain Sasirangan dimanapun Suami Bertugas

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 05:11 WITA

Apatis Blues

Senin, 25 Mei 2026 - 05:26 WITA

Api Perang Narasi “Pesta Babi”

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:33 WITA

Jaksa Ungkap Modus Penyelundupan Pil Ekstasi ke Penjara, Libatkan Oknum Sipir

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:17 WITA

Ngamuk Diduga Karena “Bisikan”, Pria di Sungai Pinang Bacok Tiga Orang, Tetangga Tewas di Perjalanan ke RS

Senin, 11 Mei 2026 - 00:40 WITA

Susu, Buah dan Media Sosial

Berita Terbaru

Cermin

Apatis Blues

Minggu, 7 Jun 2026 - 05:11 WITA

Foto: cover buku

Historia

Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung

Minggu, 7 Jun 2026 - 02:02 WITA

TANGKAPAN LAYAR – Sosok aktor pemeran Superman, Henry Cavill, berjalan bersama seorang bocah yang disebut sebagai keponakannya dalam unggahan viral media sosial. Kisah tersebut ramai dibicarakan netizen dan menuai berbagai komentar lucu serta menggemaskan. (foto: tangkapan layar)

Hiburan

Guru tak Percaya, Bocah Ini Buktikan Superman Benar Pamannya

Minggu, 7 Jun 2026 - 01:25 WITA

Pemkab Kotabaru Gelar Tabligh Akbar Dalam Rangka Harjad ke-76

Kotabaru

Pemkab Kotabaru Gelar Tabligh Akbar Dalam Rangka Harjad ke-76

Sabtu, 6 Jun 2026 - 11:52 WITA

Verified by MonsterInsights