Dari Nepal ke Indonesia: Amarah Rakyat atas Korupsi dan Gaya Hidup Elit

Dari Nepal ke Indonesia: Amarah Rakyat atas Korupsi dan Gaya Hidup Elit

- Redaksi

Sabtu, 13 September 2025 - 21:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mercurius

Mercurius

BOMINDONESIA.COM

“Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan segelintir orang.” – Mahatma Gandhi

Gelombang kemarahan rakyat Nepal baru-baru ini memperlihatkan bagaimana korupsi dan gaya hidup mewah elit politik bisa memicu gejolak sosial yang hebat. Di Kathmandu, kemarahan massa meledak bukan hanya karena dugaan penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga karena para pejabat dan keluarganya gemar flexing di tengah kondisi rakyat yang serba sulit. Adegan dramatis, mulai dari menteri yang ditelanjangi hingga anggota parlemen yang dilempari batu dan terpaksa melarikan diri ke sungai, menjadi simbol betapa dalam jurang ketidakpercayaan rakyat terhadap penguasanya.

Fenomena serupa juga bergema di Indonesia pada akhir Agustus lalu. Gelombang demonstrasi yang diwarnai kericuhan dipicu oleh isu-isu yang tidak jauh berbeda: ketidakpuasan publik atas praktik korupsi yang berulang dan perilaku sebagian elit yang terkesan abai terhadap kesulitan rakyat. Narasi “gemar flexing” pejabat dan keluarganya, yang pamer kemewahan di tengah kesenjangan, hanya memperkuat luka lama masyarakat tentang ketidakadilan dan kesenjangan sosial.

Baca Juga :  Rumiadi dan Keberanian Mengingatkan: Saat Kritik Menjadi Nafas Demokrasi

Kemarahan rakyat, baik di Nepal maupun Indonesia, adalah alarm keras bagi para penguasa. .

Bahwa korupsi bukan sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman bagi stabilitas sosial dan politik.

Bahwa perilaku pamer kemewahan di atas penderitaan rakyat hanya akan menambah bara dalam sekam.

Sejarah menunjukkan, ketika jurang kepercayaan semakin lebar, rakyat bisa mengambil alih panggung dengan caranya sendiri.

Pesan moral dari peristiwa ini jelas: penguasa dituntut untuk hidup sederhana, menunaikan amanah, dan menghormati jerih payah rakyat.

Penulis : Mercurius
Wartawan : bomindonesia.com

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Murung Raya Raih Penghargaan Nasional KPI 2026, Komitmen Pendidikan Tuai Apresiasi
Kapolri Lakukan Mutasi Besar di Polda Kalteng, Enam Pejabat Utama dan Lima Kapolres Berganti
Murung Raya Juara Umum MTQ VIII KORPRI Kalteng 2026, Dina Maulidah: Ini Kemenangan Seluruh Masyarakat
Jelang Tur Dunia, Jon Bon Jovi Saksikan Kemenangan Bersejarah Ekuador atas Jerman
Fraksi PDIP Dukung Penguatan Status BPBD Murung Raya jadi Perangkat Daerah Tipe A
Fraksi PKB DPRD Murung Raya Dorong Raperda Penataan Perangkat Daerah Berjalan Efektif dan Efesien
Kunjungan PB FASI Jadi Momentum Promosi Wisata Dan Dorong Pengembangan Olahraga Dirgantara Kotabaru
Welcome, Piala Dunia 2026
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:31 WITA

Murung Raya Raih Penghargaan Nasional KPI 2026, Komitmen Pendidikan Tuai Apresiasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 23:55 WITA

Kapolri Lakukan Mutasi Besar di Polda Kalteng, Enam Pejabat Utama dan Lima Kapolres Berganti

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:05 WITA

Murung Raya Juara Umum MTQ VIII KORPRI Kalteng 2026, Dina Maulidah: Ini Kemenangan Seluruh Masyarakat

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:08 WITA

Jelang Tur Dunia, Jon Bon Jovi Saksikan Kemenangan Bersejarah Ekuador atas Jerman

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:47 WITA

Fraksi PDIP Dukung Penguatan Status BPBD Murung Raya jadi Perangkat Daerah Tipe A

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Pemadaman Listrik Akibat Kendala Teknis, Yamin Berharap Pemulihan Dipercepat

Selasa, 7 Jul 2026 - 19:55 WITA

Verified by MonsterInsights