Narkoba, Minyak, dan Standar Ganda Kekuasaan

Narkoba, Minyak, dan Standar Ganda Kekuasaan

- Redaksi

Rabu, 7 Januari 2026 - 00:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOMINDONESIA.COM – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dengan tudingan keterlibatan narkoba dipromosikan Amerika Serikat sebagai kemenangan hukum internasional.

Namun, seperti banyak episode sebelumnya, tuduhan moral itu sulit dilepaskan dari kepentingan yang jauh lebih nyata: minyak dan geopolitik.

Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar dunia dan berada dekat poros negara-negara yang diposisikan AS sebagai lawan strategis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Krisis ekonomi dan konflik internal menjadi celah sempurna.

Isu narkoba pun berfungsi sebagai legitimasi—sebuah pola lama dalam wajah baru.
Pola ini bukan hal baru.

Irak dihancurkan atas tuduhan senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan.

Baca Juga :  Puluhan Dosen ASN Saintek ULM Gelar Aksi, Ini Tiga Tuntutannya

Libya diguncang atas nama demokrasi dan HAM, berujung pada tumbangnya Muammar Khadafi dan kekacauan berkepanjangan.

Negara runtuh, sumber daya terbuka, dan perusahaan energi Barat masuk.
Indonesia pernah mengalami bab serupa.

Soekarno, dengan sikap keras “Go to Hell with Your Aid”, menolak ketergantungan asing dan menasionalisasi perusahaan-perusahaan kolonial.

Tapi krisis ekonomi, konflik elite, dan operasi intelijen memudahkan proses pelemahan.

CIA tidak menjatuhkan Soekarno dengan invasi, melainkan lewat situasi.

Setelah Soekarno lengser, arah negara berubah drastis.

Tahun 1967, pintu modal asing dibuka. Freeport menguasai tambang emas raksasa Papua, disusul perusahaan-perusahaan asing lain.

Baca Juga :  Pertempuran Dunkirk

Negara kembali “stabil”, tetapi dengan harga mahal: kedaulatan ekonomi.

Maduro mungkin bukan Soekarno, dan Venezuela bukan Indonesia 1960-an.

Namun standar ganda Amerika tetap sama: ketika sekutu melanggar, dimaafkan; ketika lawan melawan arus, dihukum.

Cermin kali ini bukan pembelaan tokoh, melainkan peringatan sejarah.

Dalam politik global, isu moral sering hanya pintu masuk, sementara tujuan akhirnya tetap: sumber daya, pengaruh, dan kendali.

Sejarah tidak selalu berulang, tapi hampir selalu berpola.

Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia.com)

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Murung Raya Raih Penghargaan Nasional KPI 2026, Komitmen Pendidikan Tuai Apresiasi
Kapolri Lakukan Mutasi Besar di Polda Kalteng, Enam Pejabat Utama dan Lima Kapolres Berganti
Murung Raya Juara Umum MTQ VIII KORPRI Kalteng 2026, Dina Maulidah: Ini Kemenangan Seluruh Masyarakat
Jelang Tur Dunia, Jon Bon Jovi Saksikan Kemenangan Bersejarah Ekuador atas Jerman
Fraksi PDIP Dukung Penguatan Status BPBD Murung Raya jadi Perangkat Daerah Tipe A
Fraksi PKB DPRD Murung Raya Dorong Raperda Penataan Perangkat Daerah Berjalan Efektif dan Efesien
Kunjungan PB FASI Jadi Momentum Promosi Wisata Dan Dorong Pengembangan Olahraga Dirgantara Kotabaru
Welcome, Piala Dunia 2026

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:31 WITA

Murung Raya Raih Penghargaan Nasional KPI 2026, Komitmen Pendidikan Tuai Apresiasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 23:55 WITA

Kapolri Lakukan Mutasi Besar di Polda Kalteng, Enam Pejabat Utama dan Lima Kapolres Berganti

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:05 WITA

Murung Raya Juara Umum MTQ VIII KORPRI Kalteng 2026, Dina Maulidah: Ini Kemenangan Seluruh Masyarakat

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:08 WITA

Jelang Tur Dunia, Jon Bon Jovi Saksikan Kemenangan Bersejarah Ekuador atas Jerman

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:47 WITA

Fraksi PDIP Dukung Penguatan Status BPBD Murung Raya jadi Perangkat Daerah Tipe A

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Pemadaman Listrik Akibat Kendala Teknis, Yamin Berharap Pemulihan Dipercepat

Selasa, 7 Jul 2026 - 19:55 WITA

Verified by MonsterInsights