Solidaritas Publik: Jangan Dibunuh oleh Regulasi dan Sindiran – bomindonesia.com

Solidaritas Publik: Jangan Dibunuh oleh Regulasi dan Sindiran

- Redaksi

Kamis, 11 Desember 2025 - 06:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOMINDONESIA.COM,

 

The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

(Mahatma Gandhi)

 

Ketika banjir bandang melanda Sumatra dan Aceh, gelombang pertama yang bergerak cepat bukanlah birokrasi, melainkan publik: relawan, komunitas kecil, dan para penggalang dana independen — termasuk Ferry Irwandi yang berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp10 miliar.

 

Ironisnya, alih-alih mendapat apresiasi, aksi solidaritas ini justru disambut dengan dua suara sumbang dari pemerintah dan parlemen.

 

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan bahwa penggalangan dana publik harus “izin dulu”, bahkan bila jumlahnya besar harus menggunakan auditor.

 

Dalam konteks administrasi mungkin terlihat rapi, tetapi dalam situasi bencana ketika hitungan menit menentukan hidup dan mati seruan seperti ini terasa tak peka. Bencana tidak menunggu surat izin.

 

Belum selesai persoalan itu, muncul pula komentar dari anggota DPR RI Endipat Wijaya yang menyinggung gerakan donasi independen seolah ada yang “sok paling kerja” dalam penanganan bencana.

 

Pernyataan seperti ini bukan hanya tidak perlu, tetapi justru merusak semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan terbesar masyarakat Indonesia.

 

Yang dibutuhkan masyarakat Sumatra dan Aceh saat ini bukanlah regulasi tambahan, bukan pula sindiran politik, tetapi kolaborasi nyata — siapa pun yang bisa membantu, silakan membantu.

 

Negara dan publik tidak perlu saling curiga.

 

Dalam banyak bencana, justru masyarakat sipil lah yang bergerak paling cepat, membeli waktu hingga bantuan resmi tiba.

 

Mestinya, pemerintah dan DPR melihat energi publik ini sebagai aset, bukan ancaman.

 

Transparansi bisa dibangun tanpa menghambat kecepatan.

 

Pengawasan bisa diperkuat tanpa mematikan inisiatif. Yang terpenting, solidaritas jangan dibunuh oleh regulasi dan ego politik.

 

Karena saat air bah datang, yang pertama turun tangan sering kali bukan pejabat — melainkan rakyat biasa yang tak peduli jabatan, tak menunggu izin, hanya ingin menyelamatkan sesama.

 

Mercurius

(Penulis Wartawan bomindonesia.com)

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

INDONESIA
81 Tahun Merdeka, Masihkah Kepak Sayap Garuda Menaungi?
Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu
33 Tahun Terpisah, Ritchie Blackmore Akhirnya Kembali Sepanggung dengan Deep Purple
Jajaran SKPD Hingga Umum Bagikan 7 Ribu Bendera Merah Putih untuk Warga Sambut HUT Ke-81 RI
Harapan Kepada Jefrie Fransyah Agar Tata Kelola Persampahan di Kota Seribu Sungai Lebih Baik
Saat Listrik Padam, Mana yang Lebih Efektif, Video Call atau Terbang ke Jakarta?
Gubernur Pantau PLTU Asam-Asam via Video Call melalui Kabinda
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:36 WITA

INDONESIA

Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:53 WITA

81 Tahun Merdeka, Masihkah Kepak Sayap Garuda Menaungi?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 02:20 WITA

Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:43 WITA

33 Tahun Terpisah, Ritchie Blackmore Akhirnya Kembali Sepanggung dengan Deep Purple

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:23 WITA

Jajaran SKPD Hingga Umum Bagikan 7 Ribu Bendera Merah Putih untuk Warga Sambut HUT Ke-81 RI

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Cegah ISPA, Dinkes Banjarmasin Bagikan 20 Ribu Masker ke Masyarakat

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:24 WITA

Banjarmasin Bungas

Cegah ISPA, Dinkes Banjarmasin Bagikan 20 Ribu Kepada Masyarakat

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:14 WITA

Banjarmasin Bungas

Warga Banjar Desak Pemkot Banjarmasin Kelola Majukan Makam ‘Raja Banjar’

Rabu, 26 Agu 2026 - 18:56 WITA

Verified by MonsterInsights