‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ Perjuangan Pahlawan RA Kartini – bomindonesia.com

‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ Perjuangan Pahlawan RA Kartini

- Redaksi

Selasa, 21 April 2026 - 10:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh Perempuan Pahlawan Nasional RA Kartini

Tokoh Perempuan Pahlawan Nasional RA Kartini

BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – RA (Raden Ajeng) Kartini dikenal sebagai tokoh perempuan Jawa yang berjasa besar dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan. Ia lahir di Jepara pada 21 April 1879. Untuk mengenang dedikasi dan perjuangannya, tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahun.

Kartini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bangsawan, dan Ngasirah yang berasal dari kalangan rakyat biasa. Latar belakang ibunya yang tidak memiliki gelar bangsawan membuatnya berstatus sebagai istri selir dalam struktur sosial saat itu.

Sejak kecil, Kartini dikenal sebagai sosok cerdas, aktif, dan mandiri. Ia bahkan mendapat julukan “Trinil”, yang diambil dari nama burung kecil yang lincah. Dalam masa pendidikannya, Kartini sempat mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS), sebuah sekolah dasar pada masa Hindia Belanda.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, masa sekolahnya hanya berlangsung hingga usia 12 tahun, sebelum akhirnya harus menjalani tradisi pingitan. Meski demikian, Kartini tidak berhenti belajar. Ia aktif menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda dan memperoleh berbagai bacaan seperti buku, surat kabar, serta majalah Eropa.

Dari aktivitas tersebut, pemikiran Kartini berkembang pesat. Ia mulai menuangkan gagasannya melalui tulisan yang dipublikasikan di media seperti De Hollandsche Lelie dan De Locomotief yang terbit di Semarang.

Ketertarikannya pada literasi juga membawanya membaca berbagai karya penulis Eropa, termasuk Louis Couperus dengan karyanya De Stille Kracht, serta tulisan-tulisan dari Van Eeden dan Augusta de Witt. Bacaan tersebut memperkaya perspektifnya tentang kesetaraan dan peran perempuan.

Kartini juga memperkenalkan potensi seni ukir khas Jepara melalui tulisannya berjudul Van een vergeten hoekje atau “Dari Sebuah Pojok yang Dilupakan”. Dalam tulisannya, ia mengangkat nilai budaya lokal yang saat itu kurang mendapat perhatian.

Pemikirannya mengenai emansipasi perempuan semakin kuat. Ia menilai perempuan pribumi berhak mendapatkan pendidikan, kebebasan, dan kesempatan yang setara sebagaimana perempuan di Eropa.

Pada 12 November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Hadiningrat. Setelah menikah, ia menyandang gelar Kanjeng Raden Ayu. Dukungan sang suami menjadi faktor penting yang memungkinkan Kartini terus memperjuangkan cita-citanya.

Dengan dukungan tersebut, Kartini mendirikan sekolah bagi perempuan sebagai langkah nyata memperluas akses pendidikan. Upaya ini kemudian berlanjut melalui pendirian sekolah-sekolah Kartini di berbagai daerah, yang diprakarsai oleh Yayasan Kartini bersama keluarga Van Deventer, tokoh Politik Etis pada masa itu.

Sekolah Kartini kemudian berkembang di sejumlah kota seperti Rembang, Jepara, Demak, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, hingga Cirebon.

Namun, perjuangan Kartini terhenti pada usia yang sangat muda. Ia wafat pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat, yang lahir pada 13 September 1904. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah kepergiannya, sahabatnya, JH Abendanon, menghimpun surat-surat Kartini dan menerbitkannya dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang berarti “Dari Kegelapan Menuju Terang”.

Pengakuan atas jasa Kartini datang kemudian. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 pada 12 Mei 1964. Sejak itu, setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia menuju kesetaraan.

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Astamaops Polri dan KSAL Tinjau Karhutla Kalsel, Kapolda Turun Langsung Padamkan Api
BREAKING NEWS ! Presiden Prabowo Turun Langsung Pimpin Penanganan Karhutla di Kalimantan
Semarak HUT ke-81 RI, Warga Gang Buntu Grogol Selatan Rayakan Kemerdekaan dengan Penuh Kekompakan
Monyet Liar “Teror” Warga Inhil, Kini Jalani Observasi di BBKSDA Riau
Tangis Bocah Iringi Kepergian Sang Ayah, Pria Tewas Diduga Dikeroyok karena Dituduh Curi Ayam
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Diduga Terkait Kasus TPPU
Kuntadi Resmi Jabat Jampidsus, Jaksa Agung Tekankan Penanganan Korupsi tanpa Tebang Pilih
Febrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus, Kejagung Pastikan Penanganan Perkara Tetap Berjalan

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:28 WITA

Astamaops Polri dan KSAL Tinjau Karhutla Kalsel, Kapolda Turun Langsung Padamkan Api

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:56 WITA

BREAKING NEWS ! Presiden Prabowo Turun Langsung Pimpin Penanganan Karhutla di Kalimantan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:04 WITA

Semarak HUT ke-81 RI, Warga Gang Buntu Grogol Selatan Rayakan Kemerdekaan dengan Penuh Kekompakan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 01:16 WITA

Monyet Liar “Teror” Warga Inhil, Kini Jalani Observasi di BBKSDA Riau

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:15 WITA

Tangis Bocah Iringi Kepergian Sang Ayah, Pria Tewas Diduga Dikeroyok karena Dituduh Curi Ayam

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Kabel Semrawut Ditata, Pemko Banjarmasin Siapkan Aturan Fiber Optik

Minggu, 23 Agu 2026 - 20:43 WITA

Verified by MonsterInsights