BOMINDONESIA.COM, PANGKALAN BUN — Abi Kusno Nachran bagi para jurnalis di Bumi Borneo tentu bukan sosok yang asing.
Pria yang akrab disapa Bang Ono ini merupakan seorang jurnalis yang tak gentar mengungkap praktik illegal penebangan kayu yang merajalela di Bumi Borneo pada masa itu .
Melalui tulisannya yang tajam dan investigasinya yang mendalam kerap mengusik para pelaku kejahatan lingkungan di Kalimantan. Seorang jurnalis yang lahir pada tahun 1941 di Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah, kerap menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak memiliki jabatan sebagai seorang jurnalis untuk berbagai media lokal, Abi Kusno tetap tegar dan tanpa lelah menegakkan kebenaran menangani kasus-kasus penebangan liar dan perdagangan kayu ilegal.
Tindakan yang Abi Kusno pilih, bukanlah pilihan yang mudah ia jalani. Karena tindakannya membuat Abikusno berulang kali berhadapan dengan para pelaku kejahatan yang tak segan-segan mengancam nyawanya
Hingga akhirnya pada tahun 2001 yang menjadi puncak dari ancaman tersebut, Abi Kusno diserang secara brutal oleh sekelompok orang yang tak dikenal.
Dengan menggunakan senjata tajam, oknum preman itu melukai Abi Kusno hingga 17 luka tusukan sedalam 4 cm dan menghilangkan empat jarinya.
Sementara itu, sang editor mengalami perut robek oleh tusukan senjata tajam. Abi Kusno dan editornya terkapar dan bermandikan darah. Hal tersebut menyebabkan adanya 350 jahitan di tubuhnya untuk menghentikan pendarahan san membutuhkan 29 kantong darah.
Meskipun kejadian tersebut membuat Abi Kusno cacat permanen, tapi Abi Kusno tetap semangat juang dan melanjutkan perjuangannya. Dengan keberanian yang luar biasa, Abi Kusno menyebutkan nama-nama pejabat besar yang terlibat dalam penganiayaan yang dialaminya.
Salah satunya yaitu seorang anggota MPR yang menjadi pejabat daerah pada masa itu. Pada tahun 2004, Abi Kusno terjun ke dunia politik, dan dia dipilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Kalimantan Tengah.
Namun jabatan politik yang dia miliki tidak membuatnya aman dari ancaman. Teror dan intimidasi terus menghantuinya. Dengan jabatan yang ia emban, Abi semakin gencar dalam memberantas aktivitas illegal logging.
la bahkan pernah menggagalkan tiga kapal Tiongkok yang mengangkut kayu ilegal dari Taman Nasional Tanjung Puting. Tragisnya, pada tahun 2006 Abi Kusno meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di jalan tol Cirebon.
Banyak pihak yang mencurigai bahwa kecelakaan itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana pembunuhan yang telah lama disusun.
Sebelum meninggal dia sempat mendapatkan kotak kain kafan dan tulisan “Jangan Bunuh Mata Pencaharian Kami” yang diterima dari masyarakat Muara Bulan ketika Abi Kusno dan rombongan meninjau timbunan kayu ilegal di sana.
Kematian Abi Kusno Nachran menyisakan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan, dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Keberanian dan kegigihannya dalam membela kebenaran, meskipun hidupnya berakhir tragis.
Penulis : Mercurius
Editor : Mercurius
Sumber Berita: Dirangkum berbagai sumber












