BANJARMASIN, BOMINDONESIA.COM— Pernyataan kontroversial yang disampaikan oleh seorang narasumber dalam sebuah podcast di kanal YouTube KDM memicu kemarahan warga Kalimantan Selatan.
Narasumber bernama Aksar dalam video tersebut menyebut bahwa “suku Banjar adalah suku pemalas”, yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap identitas etnis secara kolektif.
Menanggapi hal ini, Ketua DPP Forum Kerukunan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), H. Rachmad Fadillah, SH, mengonfirmasi bahwa dirinya telah memenuhi undangan pemeriksaan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalimantan Selatan.
“Yang disampaikan bukan opini biasa. Ini adalah ujaran kebencian bermuatan SARA yang diarahkan ke seluruh etnis, bukan individu,” ujar Rachmad usai memberikan keterangan, Rabu (317/2025).
Ia menegaskan, konten provokatif semacam itu dapat membahayakan keharmonisan sosial di Kalimantan Selatan, khususnya jika tidak segera ditindak secara hukum.
FKPWK, lanjutnya, telah menyerahkan sejumlah dokumen penting kepada penyidik, termasuk rekaman video, tangkapan layar komentar publik, serta kronologi lengkap kejadian.
“Kami percaya bahwa pihak kepolisian akan menindaklanjuti laporan ini secara profesional. Kami desak agar proses hukum dijalankan dengan serius agar ada efek jera,” tegas Rachmad.
Masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya etnis Banjar dan komunitas Dayak Meratus, menyayangkan pernyataan terbuka yang diunggah tanpa penyaringan tersebut.
Banyak pihak menilai, jika dibiarkan, hal ini berpotensi memicu konflik horizontal dan mengganggu stabilitas sosial.
FKPWK juga mengimbau kepada para pengelola konten digital agar lebih selektif dalam menayangkan narasumber serta lebih bertanggung jawab dalam memoderasi isi siaran. “Konten publik harus menjunjung etika, bukan justru menyulut kebencian,” tambahnya.
Sejauh ini, penyidik Polda Kalsel masih mengumpulkan bukti-bukti dan memeriksa saksi-saksi lainnya.
Masyarakat berharap proses hukum berlangsung secara adil dan transparan, serta menghasilkan putusan yang menegakkan keadilan atas penghinaan yang dinilai menyakiti harga diri masyarakat Banjar.
Penulis/ Editor: Mercurius














