Pertamax Green Melonjak 31 Persen, Benarkah Bioetanol Solusi Ketahanan Energi?

Pertamax Green Melonjak 31 Persen, Benarkah Bioetanol Solusi Ketahanan Energi?

- Redaksi

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PERTAMAX GREEN - Pertamax Green 95 memiliki kelebihan dibanding dengan BBM RON 95 lainnya./istimewa

PERTAMAX GREEN - Pertamax Green 95 memiliki kelebihan dibanding dengan BBM RON 95 lainnya./istimewa

BOMINDONESIA.COM, BALIKPAPAN – Kenaikan harga Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter mulai 10 Juni 2026 memunculkan sorotan terhadap kebijakan pengembangan bioetanol di Indonesia.

Produk yang selama ini diperkenalkan sebagai bagian dari transisi energi nasional dan penguatan ketahanan energi justru mengalami kenaikan harga paling tinggi dibandingkan jenis bahan bakar lainnya.

Berdasarkan data penyesuaian harga BBM, Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau meningkat sekitar 31,7 persen.

Persentase kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan Pertamax (RON 92) yang naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Kondisi tersebut memunculkan kritik dari sejumlah pengamat ekonomi dan energi.

Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan harga tersebut menunjukkan bahwa pencampuran bioetanol ke dalam bahan bakar belum tentu membuat harga BBM menjadi lebih murah maupun lebih kompetitif.

Menurut Bhima, pengembangan bioetanol dalam skala besar juga berpotensi menambah beban fiskal negara apabila dilakukan tanpa perhitungan yang matang.

“Semakin besar campuran bioetanol dengan bensin, maka semakin besar pula potensi beban terhadap APBN apabila skema pengembangannya terus didorong tanpa efisiensi yang memadai,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Pertamax Green 95 sendiri merupakan bahan bakar campuran bensin RON 95 dengan lima persen bioetanol berbahan baku tebu yang mulai diperkenalkan pada 2023 sebagai bagian dari program energi terbarukan.

Baca Juga :  PWI Kutuk Pembunuhan Wartawati di Banjarbaru

Di sisi lain, pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan perkebunan tebu dalam skala besar guna mendukung kebutuhan bahan baku bioetanol nasional.

Namun berdasarkan kajian Celios berjudul Mengapa Bioethanol Tidak Menjawab Ketahanan Energi, pengembangan industri bioetanol diperkirakan membutuhkan investasi lebih dari 11 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp176 triliun dalam kurun waktu 10 tahun.

Nilai tersebut disebut mendekati sebagian besar alokasi subsidi energi nasional yang disiapkan pemerintah pada tahun 2026.

Kritik juga datang dari Manajer Program Bioenergi Trend Asia, Amalya Reza Oktaviani.

Ia menilai kebijakan pengembangan bioetanol masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Menurutnya, di saat pemerintah mendorong perluasan perkebunan tebu sebagai sumber bioetanol, Indonesia juga masih melakukan impor etanol dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industri energi.

“Peminat bahan bakar berbasis bioetanol juga masih relatif terbatas karena belum banyak kendaraan maupun industri otomotif yang melakukan penyesuaian teknologi,” ujarnya.

Selain persoalan pasar, Amalya menyoroti dampak lingkungan yang berpotensi muncul akibat pembukaan lahan baru untuk perkebunan tebu. Salah satunya berada dalam proyek kawasan swasembada pangan, energi, dan air di Papua Selatan.

Baca Juga :  Perusahaan AS di Indonesia Difasilitasi Pemerintah

Kajian Trend Asia menyebutkan pelepasan kawasan hutan untuk mendukung proyek tersebut berpotensi menyebabkan deforestasi hingga puluhan ribu hektare.

Menurutnya, hilangnya kawasan hutan dalam skala besar tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mengancam ruang hidup masyarakat adat dan keberlanjutan ekosistem setempat.

“Indonesia berpotensi kehilangan cadangan karbon dan fungsi ekologis hutan dalam jumlah besar, sementara produk energi yang dihasilkan belum tentu terjangkau oleh masyarakat,” katanya.

Bhima menambahkan bahwa biaya ekonomi pengembangan bioetanol tidak hanya berasal dari pembangunan perkebunan maupun infrastruktur pendukung, tetapi juga dari dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkannya.

Karena itu, ia mempertanyakan efektivitas bioetanol sebagai solusi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Sementara itu, sejumlah pengamat menilai pemerintah perlu memperkuat pembangunan transportasi publik yang efisien dan terjangkau agar ketergantungan masyarakat terhadap BBM dapat berkurang secara bertahap.

Dengan kenaikan harga Pertamax Green yang menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis BBM lain, perdebatan mengenai efektivitas bioetanol diperkirakan akan terus mengemuka di tengah upaya pemerintah mendorong transisi energi nasional.

*/ Editor Mercurius

bomindonesia
Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral ! Investor Dapur MBG Geruduk Kantor BGN, Tuntut Kepastian Investasi yang Mangkrak
FORMAS Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Perjuangkan Nasib Guru Honorer
Sony Sanjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Siap Ungkap Nama-Nama Besar di Kasus MBG
FPK Kalsel Datangi Kejagung, Desak Jampidsus Awasi Penanganan Korupsi SDI dan PDAM Batola
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Ditetapkan Tersangka dan Ditahan Kejagung
Sehari Setelah Dadan Dicopot, Kejagung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional
Lemahnya Pengawasan Pelayanan Publik, YLK Intan Kalimantan Dorong Peran Lembaga Konsumen
Tugabus Soroti Tantangan Digitalisasi, Minta Pembinaan UMKM di Kalsel Diperkuat

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:45 WITA

Pertamax Green Melonjak 31 Persen, Benarkah Bioetanol Solusi Ketahanan Energi?

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:30 WITA

Viral ! Investor Dapur MBG Geruduk Kantor BGN, Tuntut Kepastian Investasi yang Mangkrak

Senin, 8 Juni 2026 - 06:35 WITA

FORMAS Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Perjuangkan Nasib Guru Honorer

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:44 WITA

Sony Sanjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Siap Ungkap Nama-Nama Besar di Kasus MBG

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:38 WITA

FPK Kalsel Datangi Kejagung, Desak Jampidsus Awasi Penanganan Korupsi SDI dan PDAM Batola

Berita Terbaru

KEBAKARAN PEMUKIMAN - Kobaran api mengamuk di kawasan Jalan KS Tubun Gang 2 Damai, Banjarmasin, Jumat (12/6/2026) petang. Sejumlah unit pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api agar tidak merembet ke rumah warga lainnya. (foto: istimewa)

Peristiwa

Api Mengamuk Gegerkan Warga KS Tubun Gang 2 Damai

Jumat, 12 Jun 2026 - 19:33 WITA

Screenshot

Banjarmasin Bungas

Panas Hujan Tak Menentu, Dinkes Ingatkan Ancaman Faringitis hingga DBD

Jumat, 12 Jun 2026 - 18:26 WITA

Verified by MonsterInsights